Smart Woman

Thalia Lavender Young, Pendidikan Adalah Nomor Satu

Dengan pendidikan juga, menurut Thalia kita akan punya banyak pengetahuan, sehingga banyak hal yang bisa kita bicarakan.

Penulis: Rizki Fadriani | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ M WAWAN GUNAWAN
Juara Hakka Amoi Kalbar 2018, Thalia 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Bagi Amoi Kalbar 2018, Thalia Lavender Young (17), pendidikan adalah nomor satu, itu yang selalu ditanamkan kepadanya sejak kecil oleh kedua orangtua nya.

"Bagi saya pendidikan adalah nomor satu. Melalui pendidikan kita bisa membawa diri dengan baik, dengan pendidikan juga kita bisa bicara dengan orang supaya apa yang kita omonging nggak sembaranga, dan semua berbobot," kata gadis yang bercita-cita jadi Dokter itu.

Baca: Ashanty Sebut Anang Cinta Duluan Saat Ditanya Ini Oleh Followers-nya

Baca: Jadwal Lengkap Dan Live Streaming MotoGP Jerman 2018 di Sirkuit Sachsenring

Baca: Alumni PGSD UNY Landak dan GGD Landak Turut Beri Santunan Pada Keluarga Dinik

Dengan pendidikan juga, menurut Thalia kita akan punya banyak pengetahuan, sehingga banyak hal yang bisa kita bicarakan.

"Kita jadi bisa sharing sama orang, bisa bertukar pikiran. Tetap pendidikan nomor satu, bakal kita dari kecil sampai besar nanti, dan memang harus," katanya.

Selain pendidikan, ada hal lain yang juga tidak kalah penting bagi nya yaitu Budaya, karena bagi Thalia Budaya adalah identitas.

"Kalau kita nggak tahu apa budaya kita tentu saja kita junga nggak tahu bagaimana melestarikan dan melanjutkan nya," kata Thalia.

Itulah mengapa ia tertarik ikut ajang pemilihan Hakka Ako Amoi Kalbar 2018, sebagai wujud keperdulian nya terhadap budaya Hakka warisan nenek moyang.

"Sudah jadi rahasia umum kalau generasi muda semakin hari semakin kurang perduli terhadap budaya dan tradisi sendiri. Tapi sebagai keturunan Hakka dan generasi muda, saya merasa perlu untuk mengenal dan melestarikan budaya," katanya.

Apalagi kegiatan Hakka Ako Amoi ini merupakan kegiatan positif sehingga Thalia juga mendapat dukungan dari kedua orangtua nya.

"Ini juga kan kegiatan yang bagus, karena didalam lingkungan yang positif ini pasti kita dapat hal yang positif sehingga memperluas wawasan. Kalau nggak ikut kompetisi ini juga aku nggak kenal banyak orang, banyak hal banget yang aku dapat. Yang jelas dalam segi melestarikan budaya itu, ikut organisasi seperti ini lebih baik karena dilingkungan ini semua saling memperkuat, saling support dan belajar bersama untuk melestarikan budaya Hakka," kata Thalia.

Selain itu, sebagai generasi muda ia mengaku suka kompetisi, sehingga ajang pelestarian budaya melalui kompetisi Hakka Ako Amoi ini sangat cocok untuk menarik minat anak muda dalam bajar budaya.

"Orang muda itu cenderung suka kompetisi, mereka masuk mau dapat trial (pengujian), mereka semakin masuk ke kegiatan positif seperti ini dibentuk jadi lebih positif dan jadi semakin naik kompetensi nya. Sehingga bagi saya kompetisi memegang peran penting dalam menarik minat anak muda dalam belajar budaya," Thalia meyakini.

Selain memiliki kesukaan dalam berkompetisi secara positif, hal lain yang menghatarkan Thalia sampai pada capaian prestasi seperti sekarang adalah target.

"Hidup itu harus punya target, kita harus tahu besok mau apa, setelah ini mau apa, nanti mau jadi apa," kata gadis yang bercita-cita jadi spesialis jantung itu.

Thalia bercerita, ia selalu memiliki catatan mengenai apa yang akan ia lakukan, karena dengan seperti itu ia selalu tahu pasti target yang harus dicapai nya.

Ia bahkan sudah memiliki cita-cita setelah nanti tamat SMA akan melanjutkan Sarjana kedokteran di Univesitas Indonesia atau Universitas Gajah Mada, lalu melanjutkan Gelar Master atau spesialis di Jerman.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved