Pengelola Speedboat Keluhkan Penarikan Retribusi oleh Dishub

Dia mengaku tak keberatan membayar retribusi tersebut asalkan disertai surat resmi oleh dinas terkait.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ADELBERTUS CAHYONO
Penumpang hendak naik ke speedboat melewati tangga kayu di Pelabuhan TPI, Sukadana, Kayong Utara, Jumat (13/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Adelbertus Cahyono

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAYONG UTARA - Para pengelola jasa transportasi speedboat di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara mengeluhkan adanya retribusi yang ditarik oleh Dinas Perhubungan setiap harinya.

Seorang pengelola jasa salah satu speedboat yang tidak ingin disebutkan identitasnya memaparkan, setiap hari mereka diwajibkan membayar biaya sandar senilai Rp 7.500.

Baca: Pengusaha Speedboat Minta Pemkab Sediakan Fasilitas Memadai

Baca: FKH Dukung Langkah Polsek Entikong Dan Koramil Grebek Lokasi PETI

Baca: Prajurit Pikul Material Untuk TMMD Karena Medan Sulit

"Terus nanti kita juga harus bayar dua ribu per penumpang, jadi total sehari kalau penumpang penuh kita bisa bayar Rp 83.500, itu setiap hari," katanya kepada wartawan, Jumat (13/7/2018).

Dia mengaku tak keberatan membayar retribusi tersebut asalkan disertai surat resmi oleh dinas terkait.

Apalagi jika uang retribusi tersebut memang dikelola untuk membangun atau menambah fasilitas di dermaga speedboat yang masih belum memadai.

Selama ini, para pengelola transportasi speedboat kerap kewalahan saat air sedang surut karena sungai tempat dimana speedboat biasanya bersender terlalu dangkal.

"Mau ndak mau akhirnya kita alihkan ke Pelabuhan TPI, walaupun tinggi, penumpang susah naik, disana pun kita ditarik lagi 50 ribu dari Dinas Kelautan dan Perikanan," ungkapnya.

Oleh karena itu, dia berharap kepada Pemerintah Kabupaten Kayong Utara melalui dinas terkait dapat memanfaatkan dana retribusi itu untuk membangun dermaga yang lebih nyaman bagi penumpang.

Sehingga, kedepannya para pengelola speedboat tidak perlu lagi kerepotan memindahkan armadanya ke Pelabuhan TPI.

"Selama ini kita ditarik retribusi terus tapi pembangunannya mana, tidak kelihatan, malah kita lagi yang upah orang 2,5 juta untuk bangun steher di (Pelabuhan TPI)," pungkasnya.

Penulis: Adelbertus Cahyono
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved