Jadi Daerah Rawan Banjir, Bank Dunia Bantu Pontianak Konsepkan Penataan Kota

Pemerintah Kota Pontianak kembali kedatangan tamu dari tim gabungan Bappenas, Kementerian PUPR, BNPB, Bank Dunia dan Firma Konsultan.

Jadi Daerah Rawan Banjir, Bank Dunia Bantu Pontianak Konsepkan Penataan Kota
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji batik kuning saat memberikan sambutan acara kunjungan tim gabungan, Bappenas, Kementerian PUPR, BNPB, Bank Dunia dan Firma Konsultan, di Aula A Muis Muin (13/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pemerintah Kota Pontianak kembali kedatangan tamu dari tim gabungan Bappenas, Kementerian PUPR, BNPB, Bank Dunia dan Firma Konsultan.

Kunjungan tersebut membahas tentang Technical for Urban Flood Risk and Disaster Risk Management Technical Mission, bertempat di Aula Abdul Muis Amin, Gedung Bappeda Kota Pontianak, Jumat (13/7/2018).

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menerima langsung rombongan yang datang kali ini ditemani beberapa kepala OPD terkait seperti Kepala Dinas PUPR, Ismail, Kepala Pelaksana BPBD Kota Pontianak, Saptiko dan lainnya.

Sebagai kota dengan datarannya rendah, tentu Kota Pontianak harus memiki sistem yang baik dalam menangani genangan yang terjadi tentunya dengan membuat drainase yang memadai.

Baca: Inilah Awal dari Pengungkapan Kol Dibungkus Alquran di Ketapang

Menurut Midji, kedatangan rombongan tersebut tentu memberikan pandangan terkait menyelesaikan setiap permasalahan yang ada kaitannya dengan genangan dan banjir serta upaya-upaya yang harus dilakukan mengatasi masalah.

"Kita ingin menyelesaikan masalah genangan atau banjir yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi di Kota Pontianak. Kebetulan ini perencanaannya atau bantuan teknis dari Bank Dunia sehingga apa nanti solusi yang harus kita lakukan. Pasti harus bersinergi dengan kabupaten-kota di sekelilingnya, kalau tidak, sulit untuk menyelesaikan permasalahan tersebut," ucap Midji.

Terkait permasalahan banjir atau genangan yang terjadi dimana topografi Pontianak sebagian besar berada di bawah ketinggian air pasang maksimal, tidak hanya persoalan drainase, tetapi juga mencakup pemukiman atau urbanisasi sehingga harus dipersiapkan kawasan-kawasan pemukiman baru di mana tidak menjadi penyebab banjir ke depannya.

"Sehingga daerah-daerah itu harus dibuka. Saya berharap daerah pinggiran kota atau perbatasan dengan kabupaten menjadi kawasan pemukiman tetapi infrastrukturnya harus disiapkan terutama drainasenya," tegas Midji.

Baca: Kapolsek Pontianak Utara Perintahkan Anggota Babinkamtibmas Antisipasi Karhutla

Dalam membuat drainase juga harus melihat kajian tentang topografi daerah, ketinggian daerah satu dengan daerah lain. Ketinggian antara drainase tersier, sekunder dan primer itu juga harus diperhatikan. "Jangan sampai nanti drainase tersier lebih rendah dibandingkan drainase sekunder sehingga air tidak bisa mengalir ke drainase primer," tuturnya.

Membuat drainase jangan asal buat dalam dan lebarnya tetapi ketinggian juga harus diperhatikan sehingga hasil nya sesuai dengan topografi daerah Pontianak. Tentunya ini menurutnya akan menjadi pekerjaan wali kota terpilih kedepannya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembuatan permukiman baru dan permasalahan drainase.

"Pemetaan titik-titik rawan banjir sudah dilakukan. Makanya dengan adanya bantuan teknis dari Bank Dunia ini kita bisa mengantisipasi 25 tahun ke depan bagaimana, 50 tahun ke depan bagaimana sehingga dari sekarang sudah harus dicari solusinya. Meskipun kondisi sekarang sudah cukup baik, tetapi akan berubah jadi masalah kalau tidak mengendalikan urbanisasi," pungkasnya.

Penulis: Syahroni
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved