Di Pontianak, Kesenian Sudah Menjadi Gaya Hidup

Itulah mengapa, dalam setiap pertunjukan atau karya mereka selalu melibatkan berbagai unsur kesenian, seperti seni teater

Di Pontianak, Kesenian Sudah Menjadi Gaya Hidup
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Sanggar Anak Budaya saat pertunjukan Madekur & Tarkeni 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Melihat bahwa di Pontianak, berkesenian tidak lagi hanya dilihat semata-mata kesenian tapi sebagai gaya hidup, Anto Priadi, satu diantara pendiri Sanggar Anak Budaya atau yang dikenal Jejak Raum Teater, sepakat bahwa SAB menjadi ruang untuk semua jenis kegiatan seni.

"Kita tidak mau hanya terpaku pada satu bidang seni, misalnya hanya seni teater, kita mau merangkul semua jenis kesenian yang dimiliki anak-anak muda di Pontianak. Ada banyak potensi anak muda yang butuh ruang, jika semua kita kasih ruang maka mereka bisa lebih maksimal," kata Anton.

Baca: Sanggar Anak Budaya, Jadi Tempat Berkumpul dan Berproses Bersama Para Penggiat Seni

Baca: Foto-foto Finalis Bujang Dara Dayak dari Berbagai Perwakilan Sanggar di Acara PGD ke-33

Baca: Bupati Sambas dan Kepala Daerah Se-Kalbar Hadiri RUPS Luar Biasa Bank Kalbar

Itulah mengapa, dalam setiap pertunjukan atau karya mereka selalu melibatkan berbagai unsur kesenian, seperti seni teater, tari, musik dan lainnya.

"Makanya untuk pementasan ketiga pada bulan September nanti, kami akan gabungkan banyak pekerjaan kreatif yang ada di Pontianak untuk bisa gabung dalam pertunjukan. Kami berharap ini bisa jadi pementasan pertunjukkan terbesar di Pontianak," harapnya.

Sedangkan dimasyarakat Pontianak sendiri, baik pelaku maupun penikmat sudah muncul beragam apresiasi dan juga prestasi.

"Ada banyak kawan-kawan yg go Internasional dengan dukungan dari masyarakat di Kota Pontianak. Justru yang harus memberi perhatian lebih adalah pemerintah. Karena di Pontianak kita tidak punya gedung pertunjukan. Adapun yang kita punya, milik Provinsi dengan kondisi yang kurang mendukung," terang Anton.

"Dulu kita bisa sulao PCC jadi gedung pertunjukan, kalau sekarang mana mampu nyawa. Selain mahal, juga tidak cocok buat pertunjukkan. Ibarat kalau pemerintah ini bapak, seniman ini anak, kita masih kurang diperhatikan," tambahnya.

Anton percaya bahwa secara kualitas, beberapa seniman Pontianak sudah go International, tapi sayangnya tidak didukung dengan fasilitas yang memadai.

"Singkawang saja punya pusat untuk kesenian, tapi Pontianak belum punya," cetusnya.

Padahal, mendukung fasilitas kesenian juga merupakan dukungan dalam upaya menumbuhkan kepekaan rasa bagi para generasi muda.

"Proses kesenian itu hubungannya dengan rasa dan jiwa. Dengan berlatih seni kita merasa lebih enjoy, ketika kita mampu menghadirkan sesuatu dan memberikan tontonan bagi masyarakat, itu kepuasan yang jadi candu, sehingga ada dorongan untuk berkarya," kata Anton.

Tidak hanya itu, melalui proses seni dalam lingkup sosial, bagi Anton kita punya ruang interaksi dengan banyak orang dan selalu berusaha tampil maksimal.

Penulis: Rizki Fadriani
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved