Tingkat Konsumsi Daging-Telur Ayam Masih Rendah Di Indonesia

Namun, tantangan meningkatkan jumlah konsumsi masyarakat terhadap daging ayam dan telur ayam masih jadi perhatian serius.

Tingkat Konsumsi Daging-Telur Ayam Masih Rendah Di Indonesia
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ RIZKY PRABOWO RAHINO
Suasana kuliah umum swasembada daging ayam dan telur ayam di Gedung Rektorat Universitas Tanjungpura Pontianak, Rabu (11/7/2018) siang 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada protein. Hal ini ditandai dengan ekspor perdana produk daging ayam olahan dan pakan ternak ke tiga negara yakni Jepang, Timor Leste dan Papua Nugini beberapa waktu lalu.

Namun, tantangan meningkatkan jumlah konsumsi masyarakat terhadap daging ayam dan telur ayam masih jadi perhatian serius.

Pasalnya, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia masih rendah dan harus terus dioptimalkan oleh semua pihak.

Baca: Dapat Piagam Penghargaan, Kapolres: Sebagai Bentuk Apresiasi Kepada Seluruh Elemen Masyarakat

Baca: Wah! Fun Bike Berhadiah Mobil Meriahkan HUT 3 Tahun Lantamal XII Pontianak

Vice Presidenty Feed Tech PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Tbk, Dokter Hewan (drh) Desianto B Utomo MSc PhD mengatakan tingkat konsumsi daging ayam dan telur ayam masyarakat Indonesia masih rendah bila dibandingkan negara tetangga Malaysia.

“Kita (Indonesia_red) untuk tingkat konsumsi daging ayam broiler hanya sekitar 12,5 Kilogram (Kg) per kapita per tahun. Malaysia sudah 40 Kg per kapita per tahun. Konsumsi telur kita (Indonesia_red) baru 125 butir per kapita per tahun. Malaysia sudah 340 butir per kapita per tahun,” ungkapnya saat diwawancarai awak media di sela-sela kuliah umum di Gedung Rektorat Universitas Tanjungpura Pontianak, Rabu (11/7/2018) siang.

Mantan Peneliti di Institute of Animal Physiology and Genetics Research Edinburgh itu menegaskan upaya peningkatan konsumsi daging ayam dan telur ayam harus jadi upaya semua pihak secara massif, terstruktur dan terpadu.

“Kampanye gizi dan edukasi kepada masyarakat harus digencarkan. Daging ayam dan telur ayam sumber protein hewani. Jika dilihat perbandingan harga per gram protein antara daging ayam dan telur ayam terhadap daging sapi, susu, domba, kambing, ikan dan lainnya. Maka daging ayam dan telur ayam itu lebih murah harganya per kilogram protein. Kemudian mudah didapat dan diolah,” jelasnya.

Jumlah penduduk yang banyak plus kemampuan daya beli tinggi, namun tingkat konsumsi rendah tentunya tidak bisa dianggap remeh. Konsumsi daging ayam dan telur ayam seyogyanya menjadi satu diantara pemenuhan kebutuhan protein bagi kesehatan. Otomatis, muaranya adalah peningkatan kualitas manusia sebagai imbas dari tercukupnya konsumsi gizi.

“Ke depan, perlu advertising (iklan_red). Jangan hanya advertising rokok saja. Saya tidak setuju anggapan tingkat konsumsi daging ayam dan telur ayam rendah karena daya beli rendah. Menurut saya, edukasinya saja yang masih rendah,” imbuh Mantan Dosen Universitas Airlangga ini.

Halaman
123
Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved