Pilgub Kalbar

Menunggu Hasil Pilgub Kalbar, Ini Pesan Pengamat FISIP Untan

Pengamat FISIP Untan DR Ngusmanto meminta masyarakat untuk tetap menahan diri, tidak terprovokasi.

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Rizky Zulham
Ilustrasi
Ilustrasi Pilkada 2018 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Pengamat FISIP Untan DR Ngusmanto meminta masyarakat untuk tetap menahan diri, tidak terprovokasi dan menghormati proses penghitungan suara nyata atau real count oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalbar terkait hasil Pilkada Serentak Kalbar 2018, khususnya Pilgub.

Simak pesannya dalam tulisan berikut ini :

“Saya harapkan warga masyarakat dan simpatisan jika mendapat informasi jangan hanya satu sumber, tapi kroscek ke lainnya. Sehingga, jangan sampai terpancing hal-hal tidak benar. Kemudian, berita hoaks yang dilakukan oknum tertentu sebaiknya dikurangi atau bahkan tidak dilakukan lagi.

Baca: Menunggu Hasil Pilgub Kalbar, Ini Imbauan Ketua Walubi Kalbar

Karena terus terang saja sekarang ini kan situasi yang sebenarnya tidak kondusif apabila terus dipancing-pancing melalui provokasi. Terlebih ketika ada beberapa riak-riak kecil di beberapa daerah. Kita bersyukur kondisi sudah kembali normal, aman dan terkendali.

Warga dan simpatisan harus menahan diri, begitu juga pemimpin-pemimpinnya dan pasangan calonnya harus menyejukkan. Ini agar Kalbar yang awalnya kondusif, berubah karena ada pancingan-pancingan tertentu dan membuat orang emosi.

Simpatisan saya minta bersabar menunggu hasil perhitungan real count oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang keluar tidak lama lagi. Paslon, pendukung dan simpatisan yang menang atau unggul versi quick count lembaga survei saya imbau tidak usah melakukan hal-hal yang menimbulkan permasalahan ke depannya. Kita berharap semuanya menjaga kondusifitas itu.

Jika ternyata ada oknum provokator-provokator yang mengacaukan kondisi kondusif Pilkada Kalbar khususnya usai tahap pencoblosan, saya mendesak aparat kepolisian untuk mengambil tindakan tegas. Sesuatu yang awalnya kecil akan menjadi besar apabila tidak segera ambil tindakan tegas.

Siapapun juga kalau kondisi kondusif maka semua kegiatan apapun akan tetap berjalan baik. Kerja lancar, mau kemana-mana tenang. Berbeda jika suasana tidak kondusif, mau pergi takut dan sebagainya. Mari kita ciptakan kondisi kondusif di Kalbar.

Yang jadi pemimpin dan dianggap pemenang nantinya adalah pemimpin yang melindungi semua pihak, menganggap siapapun yang awalnya tidak memilih tetap diperlakukan dengan baik dan sebagainya.

Pemimpin yang terpilih adalah pemimpin semua pihak. Pemimpin yang terpilih adalah pemimpin Kalbar. Jangan lagi ada yang berpikir itu hanya pemimpin agama ini, partai ini, suku ini, golongan ini dan sebagainya.

Pemilihan kepala daerah adalah proses politik yang memang mau tidak mau menimbulkan perbedaan pilihan. Dalam kompetisi itu ada menang dan kalah. Itu merupakan hal yang lumrah.

Pemenang Pilkada harus merangkul semua pihak. Pihak yang kalah harus mengucapkan selamat bagi pemenang tadi dan legowo. Pihak yang kalah juga harus memberikan kesempatan dan mendukung pihak pemenang untuk memimpin lima tahun mendatang.

Tidak masalah dan berikan kesempatan kepada pemenang. Itu namanya fairplay. Bukan merupakan hal tabu jika pemimpin terpilih mengadopsi program-program pihak yang kalah sepanjang bermanfaat bagi pembangunan daerah dan kepentigan publik.

Jujur yang kita harapkan adalah demokrasi yang seperti itu. Pilihan awal berbeda biasa, jangan berpikir wah ini musuh kita dan tidak usah dukung. Itu tidak boleh karena akan susah menjadi dewasa jika tidak melakukan hal yang saya sebutkan tadi. Jadi harus saling mengakui dan menghormati.

Jika ada hal yang dipandang tidak puas, jangan melakukan hal-hal negatif. Silahkan menuntut ke Mahkamah Konsitusi (MK) kan ada peraturan dan itu dibenarkan serta sah sesuai undang-undang. Itu jalurnya sebagai negara demokrasi. Kita percayakan ke MK untuk memutuskan. Hasilnya harus dihormati untuk pembelajaran bersama ke depan.

Jangan malah melakukan hal-hal lain yang nantinya merugikan semua pihak. Jangan pakai kekerasan fisik, kita sama-sama saudara.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved