Imbauan PWNU Kalbar Soal Hasil Quick Count Pilgub Kalbar 2018

Ia berharap semua pihak bisa menahan diri karena Pilkada sebagai proses demokrasi tentunya ada pihak yang menang atau kalah saat bertarung.

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Rizky Zulham
kolase
ilustrasi pilkada 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Ketua Rois Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalbar, H Syahrul Yadi mengimbau umat beragama Kalbar khususnya Islam untuk menghormati proses demokrasi yang tengah berjalan secara baik saat ini.

“Hasil quick count itu adalah hasil awal, bukan final. Oleh karena itu, kita hargai sambil menunggu hasil real count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalimantan Barat,” ungkapnya saat diwawancarai Tribun Pontianak, Minggu (1/7/2018) sore.

Ia berharap semua pihak bisa menahan diri karena Pilkada sebagai proses demokrasi tentunya ada pihak yang menang atau kalah saat bertarung.

“Selesai pertarungan itu (Pilkada_red), kita adalah Warga Negara Indonesia (WNI) dan warga provinsi Kalbar. Kita adalah saudara. Jangan karena proses demokrasi malah mencabik-cabik persaudaraan kita yang kental,” terangnya.

Baca: Ini Imbauan Sekum MUI Kalbar Soal Hasil Quick Count Pilgub Kalbar 2018

Syahrul Yadi meminta semua menghargai persaudaraan selama ini. Jangan hanya karena Pilkada yang digelar lima tahun sekali merusak persaudaraan yang sudah terjalin puluhan tahun sejak Indonesia diproklamirkan.

“Terkait informasi media sosial yang begitu liar dan ada oknum-oknum yang mengaitkan isu SARA, saya minta hentikan dan jangan buat sesama anak bangsa berkelahi dan ribut,” pintanya.

Ia menegaskan Pilkada merupakan proses memilih pemimpin Kalbar, bukan memilih pemimpin agama, suku atau golongan tertentu. Dalam dunia demokrasi, memilih pemimpin adalah suatu kewajiban bagi rakyat suatu negara

“Kita memilih pemimpin kita di Kalbar sebagai negara demokrasi dan bukan negara agama. Negara demokrasi Pancasila, bukan negara demokrasi agama. Sangat salah kalau kita bicara demokrasi, tapi dikait-kaitkan dengan agama. Kita memang iya beragama, tapi kita berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945,” imbuhnya.

Syahrul Yadi mengimbau semua tokoh agama baik di tingkat provinsi maupun 14 kabupaten/kota se-Kalbar untuk selalu mendinginkan umat masing-masing. Ia mengibaratkan tokoh agama harus menjadi kulkas yang bisa menyejukkan apapun benda yang masuk ke dalamnya.

Jangan malah jadi kompor atau kipas yang memanas membuat api kecil malah menjadi besar.

“Jadilah kulkas, jangan jadi kompor. Jadilah penyejuk, jangan jadi pemanas. Sebab, kalau jadi kulkas semua akan beruntung. Kalau jadi kompor atau pemanas maka semua rugi. Itu akan membuktikan sebagai warga negara yang baik dan penganut agama yang baik. Saya harap ini menjadi semangat semua tokoh agama, bukan hanya Islam saja. Semangat persatuan dan kesatuan,” tandasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved