Jadi Pelopor Hijrah Artis, Ini Kisah Hidup Ustaz Hari Moekti Dari Seorang Rocker Hingga Jadi Da'i

Tutup usia dalam keadaan hijrah, dari seorang artis terkenal di Indonesia sampai menjadi ahli dakwah.

Jadi Pelopor Hijrah Artis, Ini Kisah Hidup Ustaz Hari Moekti Dari Seorang Rocker Hingga Jadi Da'i
Net
Harry Moekti 
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Tutup usia dalam keadaan hijrah, dari seorang artis terkenal di Indonesia sampai menjadi ahli dakwah.
Inilah kisah panjang Ustaz Hari Moekti, mantan rocker Indonesia yang hijrah dan menjadi seorang da’i.
Meninggal pada Hari Minggu (24/6) sekitar pukul 20.49 WIB di sebuah rumah sakit di Jawa Barat.
Dilansir dari Kumparan.com Ismail Yusanto, yang merupakan mantan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia sekaligus kerabat almarhum mengatakan, Hari meninggal akibat penyakit jantung.
Bahkan, menurut pengakuan istri Hari, ia meninggal di saat sedang melaksanakan tablig.
"Tampaknya sakit jantungnya itu yang menghentikan langkahnya. Menurut istrinya, ada problem dengan obat jantungnya. Di saat tablig, Beliau dipanggil Allah. Sebuah akhir yang baik, insyaallah," kata Ismail kepada kumparan, Minggu (24/6/2018).
Ismail lantas menceritakan sedikit perjalanan hidup Hari sebelum berpulang. Menurutnya, Hari bisa dikatakan sebagai seorang pelopor hijrahnya para artis.
"Bila sekarang sedang ramai artis berhijrah, itu sebuah perkembangan yang bagus, Alhamdulillah. Maka, Ustaz Hari Moekti boleh disebut sebagai pelopor hijrah artis," ucapnya.

Juru Bicara HTI, Ismail Yusanto

Juru Bicara HTI, Ismail Yusanto (Foto: Aprillio Akbar/Antara)
Menurut Ismail, awal proses hijrahnya Hari dari seorang musisi menjadi seorang da'i tidaklah mudah. Hal itu diungkapkan oleh Hari kepada Ismail dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu.
"Soal hijrahnya itu, dia mengakui dan saya tahu tidaklah mudah. Tapi dia sangat bahagia, meski hidup dalam keterbatasan. Beda dengan kehidupan sebelumnya yang bergelimang materi dan popularitas, tapi dia menyebut hati tak pernah tenteram," ucap Ismail.
"Pernah sekali waktu dia bercerita, baru saja dapat tawaran manggung di 30 kota dengan bayaran yang sangat menggiurkan. Saya tanya, 'Diterima?'. 'Tidak', katanya. Saya harus istikamah, tegasnya. Istikamah itulah yang membuat dia terus bisa bertahan dalam jalan dakwah hingga akhir hayatnya," lanjutnya.
Penulis: Madrosid
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved