DPRD Kalbar Desak Penguatan Fungsi Intelejen Antisipasi Sel-Sel Tidur Terorisme di Kalbar

“Khusus di Kalbar seperti penangkapan terduga teroris di Sambas dan Sintang. Ini kan rentetan dengan modus operandi yang sama,” terangnya.

DPRD Kalbar Desak Penguatan Fungsi Intelejen Antisipasi Sel-Sel Tidur Terorisme di Kalbar
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / RIZKY PRABOWO RAHINO
Ketua Komisi I DPRD Provinsi Kalbar, Subhan Nur 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Barat mendesak penguatan fungsi intelejen aparat penegak hukum dan keamanan guna antisipasi kemungkinan adanya sel-sel tidur terorisme di wilayah Provinsi Kalimantan Barat.

Ketua Komisi I DPRD Kalbar, Subhan Nur mengatakan disahkannya Undang-Undang (UU) Anti Terorisme di Indonesia harusnya jadi pelecut aparat kepolisian dan TNI untuk meningkatkan koordinasi antar intelejen negara.  

Baca: Masyarakat Banjar Serasan Bersyukur Dapat Bagian Zakat Mujahidin

Baca: Roy Kiyoshi Ramal Bencana Besar 2018! Mayat Bergelimpangan di Mana-mana

 “Aspek intelejen itu sebagai deteksi dini terhadap pencegahan suatu kejadian,” ungkapnya kepada Tribun Pontianak, Selasa (12/6/2018).

Politisi Nasdem itu menambahkan ketika intelejen diperkuat, maka setidaknya pemerintah bisa menghindari terjadinya aksi terorisme yang mengakibatkan kerusakan baik material maupun korban jiwa.

Baca: Persib Target Puncaki Klasemen Putaran Pertama Liga 1, Tunggu Konfirmasi Lawan Persija

Pada prinsipnya, ia memberikan apresiasi kepada upaya aparat kepolisian yang semakin aktif melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang diduga terlibat dalam sel atau jaringan organisasi/kelompok terorisme, radikal dan ekstrimis internasional.

“Khusus di Kalbar seperti penangkapan terduga teroris di Sambas dan Sintang. Ini kan rentetan dengan modus operandi yang sama,” terangnya.

Semakin aktifnya penangkapan dan penindakan membuktikan bahwa POLRI telah mengambil pelajaran terhadap insiden aksi terorisme melalui peledakan bom bunuh diri yang terjadi di Mako Brimob Polri, Tiga Gereja dan Kantor Mapolresta di Surabaya, serta aksi-aksi susulan lain beberapa waktu lalu.

“Kita berharap aspek pencegahan ini rutin dilakukan. Kejadian-kejadian yang lalu harus dianggap sebagai pelajaran berharga. Terorisme itu ingin menciptakan kondisi dimana aparat keamanan negara tidak bisa menjaga diri, apalagi menjaga rakyat. Itu jika diihat dari penyerangan kantor Brimob POLRI yang merupakan satuan elite POLRI,” jelasnya.

Ia menambahkan berbicara terorisme sama tak ubahnya dengan ideologi yang tidak pernah mati. Sepanjang ada penyebab yang memunculkan ketidakadilan, maka di ranah itulah ideologi terorisme akan bermain.

“Ini adalah tugas bersama seluruh rakyat Indonesia. Sepanjang tetap ingin tegakkan ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Mari lawan terorisme bersama-sama,” imbaunya.

Terorisme, kata Subhan, memunculkan kegemparan di kehidupan negara Indonesia. Ia menekankan untuk memberangusnya bukan hanya sekedar konsep pemberantasan, namun juga pencegahan.

“Harus ada konsep terpadu. Kita jangan lengah dengan terorisme. Saat ini yang perlu diantisipasi bukan hanya terorisme saja, tapi juga gerakan komunisme yang mulai bangkit,” tukasnya. 

Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved