Jadi 'Siluman' Hingga Melahirkan di Tengah Kebun, Derita Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit

Mulai pagi, mereka harus membawa pupuk ke areal kebun. Kemudian mereka juga bertugas menyemprot racun rumput berbahan kimia.

Jadi 'Siluman' Hingga Melahirkan di Tengah Kebun, Derita Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit
Kolase
Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak,  Try Juliansyah

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK - Persoalan buruh perempuan di Kalbar sangat kompleks.

Mulai dari masalah pengupahan yang di bawah standard, hingga pemenuhan hak yang sulit didapatkan.

Parahnya lagi, ada buruh perempuan yang sama sekali tak dibayar meski kerja banting tulang.

Buruh ini biasa disebut Buruh Siluman atau Invisible Worker.

“Itu lebih sadis lagi mereka. Suaminya ada target kerja, nah untuk memenuhi target itu mau tidak mau istri bahkan anaknya ikut bekerja. Namun yang dibayar hanya suami. Istri dan anak yang ikut bekerje tak diberi upah,” ungkap Deputi LinkAr Borneo, Ade Irma Handayani dalam diskusi Konflik Agraria dan Buruh di Perusahaan sawit, bersama awak media, Sabtu (9/6/2018) sore.

Baca: Pemerintah Dinilai Belum Serius Sikapi Konflik Agraria Dan Masalah Buruh di Perusahaan Sawit

Baca: Konflik Agraria Tak Hanya Libatkan Perusahaan Swasta Tetapi Juga BUMN

Baca: Wajah Roy Kiyoshi di Foto Ini Aneh Banget, Netizen Ribut Bahas Bagian Tubuhnya Yang Ini!

Baca: Innalillahi Wainnalilallhirojiun, H.A.Madjid Hasan Mantan Walkot Pontianak Meninggal di Makkah

Irma mengatakan, selain tak mendapat upah, mereka juga akan disembunyikan saat ada pemeriksaan dari pusat.

Jadi seolah-olah para Buruh Siluman ini tak ada di perkebunan mereka.

“Pihak perusahaan perkebunan tahu, mandor juga tahu. Namun mereka berpura-pura seolah tidak tahu,” katanya.

Buruh Siluman, kebanyakan datang dari luar daerah. Bekerja demi mengharapkan dapat upah, tanpa ada kontrak kerja.

Halaman
1234
Penulis: Try Juliansyah
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved