Opini

Faktor Risiko Obesitas Terhadap Anak-anak, Remaja dan Orang Dewasa

Remaja merupakan salah satu kelompok sasaran yang berisiko mengalami gizi lebih.

Opini
Mahasiswa Kimia FMIPA Untan, Faridah 

Faridah.
Faridah.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Obesitas adalah suatu keadaan yang melebihi dari berat badan relative seseorang, sebagai akibat penumpukan zat gizi terutama karbohidrat, protein dan lemak.

Kondisi tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan kebutuhan energi, yaitu konsumsi makanan (yang terlalu banyak) dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi (yang lebih sedikit) (Nurcahyo, 2011).

Overweight (kelebih berat) adalah peningkatan berat badan di atas nilai standar yang dihubungkan dengan tinggi badan dan tidak berhubungan dengan peningkatan lemak tubuh total (Arif, 2000). Selain pola makan dan perilaku makan, kurangnya aktivitas fisik juga merupakan faktor penyebab terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak sekolah (Kemenkes RI, 2012). 

Remaja merupakan salah satu kelompok sasaran yang berisiko mengalami gizi lebih. Gizi lebih pada remaja ditandai dengan berat badan yang relatif berlebihan bila dibandingkan dengan usia atau tinggi badan remaja sebaya, sebagai akibat terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan dalam jaringan lemak tubuh (Kurdanti et al., 2015).

Berdasarkan hasil analisis, prevalensi kegemukan (termasuk obes) pada perempuan dewasa usia 19-55 tahun sebesar 29.4%. Nilai tersebut sedikit lebih tinggi dari prevalensi nasional kegemukan (termasuk obesitas) pada perempuan dewasa usia >18 tahun yaitu sebesar 26.9% (Diana, Yuliana, Yasmin, & Hardinsyah, 2013).

Seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan memiliki pengetahuan gizi yang lebih tinggi karena memiliki pengalaman dan akses informasi yang lebih banyak sehingga dapat memiliki sikap dan praktik gizi yang lebih baik khususnya dalam hal perilaku konsumsi pangan dan aktivitas fisik yang erat kaitannya dengan kegemukan (Diana et al., 2013).  

Subjek yang berpendapatan menengah ke atas berisiko 1.566 kali lebih besar mengalami kegemukan dibandingkan subjek berpendapatan menengah ke bawah. Wilayah tempat tinggal juga menjadi faktor risiko kegemukan dimana subjek yang tinggal di perkotaan berisiko 1.358 kali lebih besar mengalami kegemukan. Seseorang yang beraktivitas fisik ringan berisiko lebih tinggi mengalami kegemukan dibandingkan subjek yang beraktivitas fisik berat (OR=1.213; 95% CI:1.153-1.275).

(Baca: Ramdan Jangan Disia-siakan, Edy Junaidi Ajak Warga Makmurkan Masjid dan Surau )

Prevalensi kegemukan lebih tinggi pada perempuan yang mengonsumsi makanan dan minuman manis >10% AKE, karbohidrat  >55% AKE, protein >15% AKE, lemak >25% AKE serta tingkat kecukupan energinya ≥110% AKE. Orang yang mengkonsumsi pangan sumber protein hewani berisiko terkena obesitas sebesar 4.62 kali. Hal ini diduga karena pangan sumber protein hewani juga merupakan pangan yang tinggi lemak dan asupan lemak yang tinggi tinggi berhubungan dengan risiko kegemukan (Diana et al., 2013). 

Kegemukan atau obesitas dapat menyebabkan terjadinya berbagai macam jenis penyakit yang serius seperti diabetes Mellitus (DM), hipertensi, stroke, gagal nafas, nyeri sendi, batu empedu, psikososial, kanker dan gagal jantung bahkan dapat menyebabkan kematian (Husnah, 2012).

Berat badan ideal merupakan berat badan optimum dari tubuh untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Perhitungan terhadap berat badan ideal memiliki kegunaan sebagai parameter keadaan kesehatan seseorang.

Halaman
12
Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved