Panik Teriakan Bom

Wakil Dekan III Fisip Untan Ungkap Fakta Lain Pelaku Bomb Joke, Dikenal Baik dan Sopan

Karena setelah lulus FN juga akan mengabdikan diri pada Pemprov Papua dan tes menjadi bagian dari keluarga besar FISIP di Kalbar.

Wakil Dekan III Fisip Untan Ungkap Fakta Lain Pelaku Bomb Joke, Dikenal Baik dan Sopan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ RIDHO PANJI PRADANA
Wadek III FISIP Untan Pontianak, Sabran Achyar 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Wakil Dekan (Wadek) III FISIP Untan Pontianak, Sabran Achyar menuturkan jika FN merupakan sosok yang baik dan sangat sopan, ia pun prihatin dengan kasus menimpa alumni dari FISIP Untan tersebut.

Menurutnya jika FN memang kesulitan berkomunikasi yang baik menggunakan bahasa Indonesia.

Baca: Isu Bom di Pesawat Lion Air di Bandara Supadio, Pj Gubernur Kalbar Sebut Masyarakat Harus Rasional 

"Saya mewakili pihak fakultas dan bidang kemahasiswaan mengaku prihatin dengan kasus ini, selanjutnya saya kira diperlukan ada keseimbangan informasi, hukum memang harus dikedepankan namun harus dilihat dari fakta hukum yang dilihat dari historis, sosiologis maupun yuridis," katanya, Selasa (29/05/2018).

 Baca: Insiden Bomb Joke, Lion Air Bantah Adanya Kesalahan Pramugari Berikan Instruksi Pada Penumpang

Jika yuridis mengatakan ada dugaan maka diproses, kata dia, namun harus ada kebijakan sosial dalam konteks sosial hukum karena dilihat dari budaya, apalagi, lanjutnya FN adalah mahasiswa yang sangat sopan dan baik.

"Namun, dengan postur tubuh seperti tersebut, terkadang orang curige, dan saya rasa hal ini harus dihilangkan," terangnya.

Ia mengatakan, FN memang mahasiswa FISIP angkatan 2009 yang mendapat beasiswa dari Pemprov Papua.

FN dikuliahkan luar Papua karena mungkin Pemprov ingin putra-putri terbaik Papua mengenal budaya lain.

"Potensi ini saya kira perlu ada kearifan bagaimana menangani masalah ini. Saat masih bimbingan, FN memang agak sulit berkomunikasi, dan hal ini harus dipahami," terangnya.

"Mungkin dengan logat kata-kata FN membuat kepanikan, saya kira harus ada penyelesaian masalah secara hati-hati dan menjadi pertimbangan aparat hukum sehingga tidak boleh berprasangka negatif dengan FN," tambahnya.

Karena, menurutnya, setelah lulus FN juga akan mengabdikan diri pada Pemprov Papua dan tes menjadi bagian dari keluarga besar FISIP di Kalbar.

"Saya punya kesimpulan kesalahan ini mungkin karena diskomunikasi, perlu diperdalam, dan jika perlu pihak kepolisian mendengar pendapat ahli bagaimana berkomunikasi, agar aparat Kepolisian tau dalam berkomunikasi FN menggunakan bahasa Indonesia agak sulit, bahkan saat berkuliah harus mengulang mata kuliah bahasa Indonesia sebanyak tiga kali, jadi harus ada kearfian untuk itu," ujarnya.

Ia pun mengatakan sudah berkomunikasi dengan Warek III, ia menginginkan adanya pendampingan dari Untan, karena merupakan bagian dari Untan khususnya FISIP agar meringankan beban yang dialami FN.

 "Kami juga ada rencana dan jika diberi kesempatan ingin berkunjung, namun sampai sekarang belum diketahui posisi FN," pungkasnya.

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved