Kendalikan Inflasi, TPID Libatkan Ulama Ajak Masyarakat Konsumsi Secara Bijak

Melihat pergerakan harga saat ini yang cenderung terkendali, serta pemerintah berupaya menyiapkan kecukupan komoditas

Kendalikan Inflasi, TPID Libatkan Ulama Ajak Masyarakat Konsumsi Secara Bijak
TRIBUN PONTIANAK/NINA SORAYA
Kepala Kantor Bank Indonesia Kalbar Prijono berbincang dengan jurnalis saat acara buka puasa bersama Bank Indonesia dan media, Kamis (24/5/2018). 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Nina Soraya

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Moment Ramadan dikhawatirkan menjadi pemicu inflasi tinggi.

Namun Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Prijono, memastikan dengan kerja keras dari tim pengendali inflasi daerah (TPID) serta satgas pangan maka momok inflasi tinggi di hari raya keagamaan seharusnya bisa ditekan atau lebih terkendali.

Baca: Bank Indonesia Imbau Masyarakat Tukar Uang di Bank Terdekat

"Trennya memang inflasi di bulan puasa itu di angka satu persen lebih dalam beberapa tahun terakhir. Tapi kami memperkirakan di puasa kali ini inflasi bisa di bawah angka satu persen atau minimal satu persen," ungkapnya saat buka puasa bersama dengan jurnalis di Pontianak, Kamis (24/5/2018).

Menurutnya karena melihat pergerakan harga saat ini yang cenderung terkendali, serta pemerintah yang berupaya menyiapkan kecukupan dari stok komoditas.

Baca: Antisipasi Kebutuhan Uang di Ramadan, Bank Indonesia Kalbar Siapkan Rp 3,2 Triliun

"Kami juga dari TPID melibatkan ulama, minta tolong untuk sampaikan agar masyarakat mengkonsumsi dengan bijak," paparnya.

Saat ini komoditas yang mengalami kenaikan yakni harga telur dan daging ayam, sementara komoditas lainnya seperti gula, bawang, hingga daging sapi masih normal.

"Saya kemaren jalan ke pasar Flamboyan, yang naik telur dan daging ayam. Kalau bawang merah dan bawang putih stabil, harga daging sapi juga stabil. Saya tanya pedagang ada persoalan apa, mereka bilang aman aja," katanya.

Baca: Bank Indonesia Gelar Buka Puasa Bersama Media

Prijono memaparkan untuk komoditas pangan yang bisa jadi pemicu inflasi masih di komoditas beras, karena masyarakat masih mengkonsumsi ini untuk sehari-hari.

"Kalau untuk beras itu bobotnya bisa 5 persen. Kalau komoditas yang sering dikonsumsi masyarakat terus bobotnya besar, itu kalau ada kenaikan harga dikit aja, infact ke inflasi jadi besar," jelasnya.

Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved