Para Pengrajin Tanjak di Sekadau Kebanjiran Order

Seperti di Kabupaten Sekadau, para pejabat, petinggi, dan anak muda Melayu kembali gemar memakai tanjak

Tayang:
Penulis: Rivaldi Ade Musliadi | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIVALDI ADE MUSLIADI
Tanjak 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Bagi setiap suku, terutama kaum adam melilitkan kain di kepala menjadi ciri khas tersendiri.

Bentuk kain bisa beragam, seni melilitkannya juga cukup variatif.

Ibarat kaum pria di Jawa memakai blangkon sebagai simbol adat Jawa yang sudah sangat populer di Indonesia.

Kaum pria Melayu pun juga memiliki lilitan kain yang dipakai di kepala, yang dinamakan Tanjak.

Kini, di berbagai daerah kembali mempopulerkan yang menjadi ciri dan simbol adat tersebut.

Baca: Pemkab Sekadau Gelar Safari Ramadan Perdana di Belitang Hulu

Seperti di Kabupaten Sekadau, para pejabat, petinggi, dan anak muda Melayu kembali gemar memakai tanjak, tentu saja dengan bentuk dan variasi yang sudah dimodifikasi.

Bahkan, bagi kamu yang berada di Sekadau dan ingin mencari dan menggunakan tanjak, sekarang tidak perlu jauh-jauh untuk membelinya. Di Sekadau juga sudah ada pengrajin tanjak, yang pembuatannya bisa kita pesan sesuai keinginan kita sendiri.

Satu di antara pengarajin tersebut adalah Dodi. Warga Kampung Tebal Desa Sungai Ringin Kecamatan Sekadau Hilir ini, baru 5 bulan memukai usaha sebagai pengrajin tanjak.

Untuk kreasi tanjak pun bermacam-macam, dengan pilihan warna yang beragam.

Untuk satu tanjak, Dodi memberikan harga sebesar Rp. 120 Ribu sampai Rp. 185 Ribu untuk tanjak dewasa, dan untuk anak-anak berkisar harga Rp. 80 sampai Rp. 100 Ribu.

"Tergantung tingkat kesulitan dan juga lipatan yang digunakan. Harganya juga beragam," ujarnya.

Untuk proses pembuatan satu tanjak, ia memerlukan waktu sekitar 2 jam paling lama, dan bisa membuat 5 buah tanjak dalam satu hari.

Menjelang hari raya Idul Fitri, Dodi mengakui kebanjiran order. Sudah banyak orang yang datang dan menghubungi dirinya diminta untuk dibuatkan tanajak seperti yang diinginkan.

Pria yang juga merupakan anggota Persatuan Orang Melayu (POM) Kabupaten Sekadau ini juga mengatakan, dirinya belajar membuat tanjak dan mengkreasikan sehingga memiliki nilai jual juga dari POM.

Bahan dasar yang berupa kain ia dapatkan setelah berkoordinasi dengan POM Pontianak. Kemudian, POM Sekadau juga berinisiatif untuk membuat kerajinan tanjak tersebut yang dilakukan oleh Dodi, untuk dijual ke pasaran.

Sebenarnya, Tanjak dianggap lambang kewibawaan di kalangan masyarakat Melayu. Semakin tinggi dan kompleks bentuknya, menunjukkan semakin tinggi pula status sosial sipemakainya.

Untuk pemakaian tanjak sendiri, kata Dodi, juga ada peraturannya. Apabila tanjak yang lebih dari tiga lipatan hanya digunakan oleh para pejabat baik di kerajaan maupun sahabat keraton. Dan digunakan pada kegiatan resmi.

Namun, bagi masyarakat umum yang ingin menggunakan tanjak cukup menggunakan yang lipatan dua ataupun lipatan satu. Dodi juga mengatakan, bagi yang ingin memesan tanjak bisa mengunjungi halaman Facebook POM Sekadau, atau langsung datang ke rumahnya di Kampung Tebal Desa Sungai Ringin Kecamatan Sekadau Hilir.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved