Dinas Perkim Lingkungan Hidup Kalbar Tegaskan Upaya Putus Rantai PETI

Jangka pendek melalui penertiban para cukong dan penambang yang dilakukan oleh kepolisian

Dinas Perkim Lingkungan Hidup Kalbar Tegaskan Upaya Putus Rantai PETI
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ RIZKY PRABOWO RAHINO
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim dan LH) Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim dan LH) Kalbar, Adi Yani mengatakan harus ada upaya memutus rantai Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) sebagai upaya menjaga keselamatan lingkungan dan generasi masa depan. “Kalau bicara PETI harus memutus rantainya,” ungkapnya, Minggu (20/5/2018).

Ia menilai ada empat elemen penting yang menjadi perhatian dalam PETI. Keempat elemen itu yakni cukong, penambang, alat dan bahan baku yang digunakan untuk penambang, serta area tambang.

(Baca: Tonton Videonya! Pangkat Kopral, Ayah Ini Beri Hormat ke Anaknya yang Letnan )

“Dari empat itu kita bisa merumuskan solusi jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek melalui penertiban para cukong dan penambang yang dilakukan oleh kepolisian,” terangnya.

Terkait bahan ada dua yakni mesin dompeng dan merkuri (air raksa). Khusus merkuri, lazimnya digunakan dalam dua tahapan oleh penambang. Tahap pertama, merkuri digunakan pada saat proses pemisahan emas dari material lainnya.

“Material tanah yang telah terkontaminasi merkuri apabila dibuang ke lingkungan menimbulkan pencemaran merkuri,” imbuhnya.

(Baca: Dorong Bawaslu Buka Data Jumlah Pelanggaran, Pengamat : Membangun Demokrasi )

Pada tahap kedua, merkuri digunakan dalam proses pemurnian emas. Dalam proses pemurnian emas dengan proses pemanasan, apabila wadah yang digunakan merupakan wadah terbuka, maka uap merkuri dapat menguap ke atmosfer.

“Pada saat hujan turun, kemungkinan air hujan terkontaminasi merkuri akan sulit dihindari. Contohnya adalah ketika cat rumah cepat pudar ketika terkena hujan. Itu karena hujan mengandung methyl mercury. Bayangkan kalau diminum manusia,” jelasnya.

Sebagai upaya mengendalikan merkuri, pihaknya sudah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pengendalian Distribusi dan Pengunaaan Merkuri serta bahan sejenisnya.

Halaman
12
Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved