Pembunuhan di Pontianak Utara

Tanggapi Pembacokan di Batulayang, Ini Komentar Pengamat Sosiologi Untan

Penegakan hukum paling tepat. Jalankan hukum sebagaimanamestinya sesuai konsekuensi.

Tanggapi Pembacokan di Batulayang, Ini Komentar Pengamat Sosiologi Untan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / Hadi Sudirmansyah
WH saat mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Pengamat Sosiologi Untan, Viza Julian memberi tanggapan terkait kasus peristiwa pembacokan yang dilakukan pria berinisial MS (28) terhadap WH (25) di Jalan Khatulistiwa Gang 25 Kelurahan Batulayang Kecamatan Pontianak Utara pada Jumat (11/5/2018).

MS tega membacok WH karena cemburu. MS melihat WH sedang berdua-duaan dengan NR (istri MS).

Simak analisisnya dalam tulisan berikut ini :

Ada banyak aspek yang mendasari seseorang, khususnya pria melakukan tindakan penganiayaan atau bahkan menghilangkan nyawa seseorang.

Dari sisi psikologis, bisa disebabkan beberapa hal misalnya harga diri yang dipertaruhkan, ada kongsi kekuasaan antara suami dan istri, persaingan rivalitas antara sesama laki-laki dan sebagainya. Jadi hal-hal seperti itu jelas berpengaruh, sehingga ada kemarahan berlebihan yang akhirnya mendorong terjadi tindakan kriminal.

(Baca: Ngamar dengan Istri Orang! Pria Ini Dibacok hingga Kritis, Ketua RT Beberkan Fakta Mengejutkan )

Namun, tetap saja fakta yang dianggap oleh seseorang sebagai hak milik, ketika diganggu maka akan menjadi masalah bagi orang tersebut. Secara kultural, kita adalah masyarakat patriarkis dimana sangat mengutamakan kelaki-lakian.

Untuk setiap kasus-kasus kriminal, saya selaku menitikberatkan pada penegakan hukum. Ketika tidak ada hukuman yang berat untuk tindakan apapun, maka ada kecenderungan orang tidak berpikir panjang ketika melakukan sebuah tindakan.

(Baca: Timbang Narkoba, Pria Ini Diciduk Polisi )

Tidak ada hukuman yang tegas membuat seseorang tidak begitu menganggap kekuatan hukum. Ketika hukum tidak dianggap, maka seseorang memilih menyelesaikan masalah sesuai jalan pikir sendiri tanpa berpikir apakah negatif atau positif.

Penyelesaian kasus-kasus seperti ini kembali ke penegakan hukum. Jika saya dimintai memberikan solusi dalam konteks pemahaman Sosiologi. Saya tidak bisa beri saran kepada orang per orang. Namun, secara umum sebagai masyarakat, kita harus menyadari bahwa pasangan kita bukanlah hak milik kita.

Sehingga ketika ada permasalahan, kita mencoba berpikir lebih panjang. Tidak sekedar melibatkan emosi dan bisa melakukan tindakan apa saja sesuka hati. Penegakan hukum paling tepat. Jalankan hukum sebagaimanamestinya sesuai konsekuensi.

Saya cenderung memandangnya bahwa perlu mengubah kultur budaya yang menganggap pasangan kita adalah hak milik kita. Sementara itu, untuk mengubah kultur penyelesaian masalah kekerasan adalah melalui penegakan hukum.

Sebab, kita akan sulit merubah pandangan kita terhadap pasangan, tapi lebih mudah mengubah perilaku seseorang dari konteks penegakan hukum yang tegas. Sehingga, seseorang akan berpikir ulang melakukan tindakan negatif atau kriminalitas.

Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved