Terdakwa Yeti Menangis di Sidang Dugaan Tipikor Pengadaan Alkes RSUD SSMA 2012

Sembari menangis, Yekti lantas dipapah oleh penasehat hukumnya yakni Dewi Purwatiningsih untuk duduk kembali ke kursi pesakitan...

Terdakwa Yeti Menangis di Sidang Dugaan Tipikor Pengadaan Alkes RSUD SSMA 2012
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIZKY PRABOWO RAHINO
Satu diantara terdakwa dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (alkes RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak Tahun 2012, Yekti Kusumawati beri kesaksian saat sidang keduabelas beragenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor, Pengadilan Negeri (PN) Pontianak, Jalan Urai Bawadi, Kota Pontianak, Rabu (8/5/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Satu diantara terdakwa dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (alkes RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak Tahun 2012, Yekti Kusumawati tak mampu menahan air mata saat sidang keduabelas beragenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor, Pengadilan Negeri (PN) Pontianak, Jalan Urai Bawadi, Kota Pontianak, Rabu (8/5/2018).

Ia terlihat menangis usai maju melihat bukti yang diperlihatkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di depan Majelis Hakim dan Penasehat Hukum sepuluh menit jelang waktu pemeriksaan dirinya selesai.

Sembari menangis, Yekti lantas dipapah oleh penasehat hukumnya yakni Dewi Purwatiningsih untuk duduk kembali ke kursi pesakitan.

Baca: Terdakwa Paparkan Perannya Dalam Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes RSUD SSMA Tahun 2012

Sejatinya, Yekti merupakan terdakwa pertama yang diperiksa sebelum Sugito dan dilanjutkan Suhadi. Yekti diperiksa dalam rentang waktu pukul 13:15-15:10 WIB.

Dalam kesaksiannya, Yekti mengatakan dirinya diperiksa penyidik lantaran ada temuan tipikor dalam proyek itu. Saat itu, dirinya selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pontianak.

“Saya ada SK Penunjukan sebagai PPK dari Pak Wali Kota saat itu. Karena tidak ada orang lain, maka saya jadi PPK dan bersedia walaupun setengah hati. Sempat menolak, hanya saja kata Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dr Multi Junto Bhatarendro) tenang saja karena teman,” ungkapnya.

Yekti mengatakan sebelum lelang dimenangkan oleh PT Bina Karya Sarana (BKS). Awalnya, ada 35 perusahaan mendaftar. Ia juga mengaku melakukan penyusunan Harga Perkiraan Sementara (HPS) proyek itu. HPS disusun berdasarkan informasi harga yang diberikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak selaku KPA.

“Itu berbentuk list harga. HPS itu bersumber dari harga pihak distributor yang ada di list. Ada brosur yang diberikan KPA. Bukan berdasarkan hasil survei. Tidak ada survei. Saya tidak tahu. Tidak ada juga yang mengingatkan saya. Saya juga mengecek dari internet untuk melengkapinya,” terangnya.  

Yekti mengaku kendati punya sertifikasi pengadaan barang dan jasa, ia tidak paham spesifikasi barang. Namun dia tahu, ada barang sama tapi nama atau merk berbeda.

Halaman
12
Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved