Waduh! Pilot Garuda Ancam Mogok, Ternyata Hal Ini Jadi Pemicu

Pada April 2017, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memutuskan untuk menghapus posisi Direktur Operasi dan Direktur Teknik di internal perusahaan

Waduh! Pilot Garuda Ancam Mogok, Ternyata Hal Ini Jadi Pemicu
Pesawat Garuda Boeing 737-500 

Dari kebijakan tersebut, disebut mulai bermunculan kasus kecelakaan yang menimpa para kru.

"Pilot kan mikirnya safety, karena bisa pulang pukul 02.00 atau 04.00 pagi. Alasan perusahaan, di luar negeri bisa kok naik angkutan umum. Kok disamain sama luar negeri, kan di sana kereta bus tepat waktu, di sini gimana tepat waktu?" tutur Bintang.

Kebijakan lainnya yang ditentang karyawan adalah penggeseran jam kerja saat bulan puasa pada 2017 lalu, pemotongan hak berupa tidak ada lagi kenaikan gaji berkala per tahunnya atas alasan efisiensi, hingga pemangkasan jam terbang pilot yang berdampak pada besaran penghasilan.

Kebijakan yang tak kalah jadi sorotan adalah ketika perusahaan mengganti sistem operasi maskapai menggunakan Sabre.

"Seharusnya ada masa transisi tiga bulan, sistem yang lama menempel sama sistem yang baru. Tapi, perusahaan kekeuh minta enam hari saja, dampaknya ya pas erupsi Gunung Agung itu, kacau semua, seakan-akan tidak ada kru dan pesawat. Padahal ada, tapi sistemnya yang enggak beres," ujar Bintang.

Pada masa itu, diketahui hanya Garuda Indonesia sebagai maskapai yang mengalami delay di sejumlah bandara.

Sementara maskapai lain tidak mengalami hal serupa, ditambah erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali, sudah mereda.

"Dulunya direksi cuma 6, kemudian jadi 9 sama Direktur Kargo. Karyawan dipotong hak-haknya, tapi direksinya membengkak. Kalau direksi kan paling tidak mobilnya Alphard," sebut Bintang.

Atas dasar hal-hal tersebut, APG bersama Serikat Bersama Serikat Karyawan Garuda Indonesia menuntut penggantian direksi yang dianggap tidak paham cara kerja dunia penerbangan.

Mereka juga memberi tenggat jika 30 hari tuntutannya tidak dipenuhi, maka pilot dan para kru akan mogok kerja.

Halaman
123
Editor: Nasaruddin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved