Liputan Khusus

Cegah Pasien Menumpuk, RSJ Terapkan Home Visit

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Kalimantan Barat di Singkawang berupaya mencegah terjadinya penumpukan pasien sakit jiwa.

Cegah Pasien Menumpuk, RSJ Terapkan Home Visit
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Satu di antara pasien sedang berbincang dengan dokter untuk mengurus administrasi agar bisa kembali ke rumah di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat, Jalan Raya Singkawang Bengkayang, Kamis (12/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Kalimantan Barat di Singkawang berupaya mencegah terjadinya penumpukan pasien sakit jiwa. RSJ Kalbar menerapkan sistem droping dan home visit. Program ini juga sejalan dengan mekanisme dari BPJS Kesehatan.

"Rata-rata pasien yang kami rawat, 90 persen pengguna kartu BPJS," kata Direktur Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat di Singkawang Suni kepada Tribun, Kamis (13/4/2018).

Pasien pengguna kartu BPJS Kesehatan ini berasal dari jalur mandiri maupun dibiayai oleh pemerintah. Pasien umum justru tak banyak di rumah sakit jiwa ini. Awalnya, jumlah pasien rawat inap berjumlah mencapai 600 hingga 700 orang. Kini jumlah itu bisa ditekan hingga mencapai 550 setelah program droping pasien dan home visit.

"Pasien yang selama ini dirawat melebihi dari ketentuan BPJS itu kita pulangkan," tuturnya.

Ada pula bekerjasama dengan pemerintah daerah yang ada warganya di rawat di RSJ namun masa perawatan sudah melebihi ketentuan BPJS Kesehatan. Ketentuan waktu pengguna BPJS yakni 180 hari rawat inap atau sekitar enam bulan.

Baca: 1 Psikiater Tangani 550 Pasien Sakit Jiwa, RSJ Terpaksa Pulangkan Pasien

Apabila sudah masuk bulan ketujuh, BPJS Kesehatan tak mau menanggung biayanya. Makanya dengan cara itu pihak rumah sakit memulangkan pasien.

"Kalau yang membayar itu tidak ada batasan, mau setahun, dua tahun, tergantung daripada tingkat kesembuhan," jelasnya.

Pasien harus menjalani masa perawatan rata-rata dua bulan hingga satu tahun. Bahkan yang lebih dari satu tahun. Mereka yang sudah ditangani sekitar enam bulan tak dikatakan sembuh. Namun mereka sudah tenang dan dapat mengurus dirinya sendiri serta bisa berinteraksi dengan keluarga maupun lingkungannya.

Halaman
12
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: listya sekar siwi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved