Jumlah Petani Terus Menyusut, Dewan Nilai Akibat Tak Sejahtera

Berdasarkan data tahun 2010-2017, jumlah petani terus alami penurunan. Prosentase penurunan sebesar 1,1 persen tiap tahun.

Jumlah Petani Terus Menyusut, Dewan Nilai Akibat Tak Sejahtera
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Sejumlah petani mulai menanam padi di areal persawahan di tepi Jalan Ahmad Yani II, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (8/4/2018) siang. Semakin pesatnya pembangunan di Kab Kubu Raya berimbas pada semakin sempitnya lahan-lahan garapan untuk persawahan yang digantikan bangunan-bangunan beton. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Prabowo

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TRIBUN - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Barat menilai penurunan jumlah rumah tangga petani dari tahun ke tahun mengindikasikan bahwa pekerjaan di bidang pertanian sudah kurang menarik bagi masyarakat, terutama generasi muda.

Baca: Curi Motor di Parkiran Mapolresta, Empat Jam AH Diringkus dan Ditembak

Seperti diketahui, berdasarkan data sejak tahun 2010-2017, jumlah petani Indonesia terus alami penurunan dari tahun ke tahun. Prosentase penurunan sebesar 1,1 persen per tahun.

Pada tahun 2010, setidaknya terdapat 42,8 juta jiwa masyarakat Indonesia yang menggeluti bidang bercocok tanam ini. Namun pada tahun 2017, angkanya turun menjadi hanya 39,7 juta jiwa.

"Penurunan ini karena masyarakat menilai profesi petani tidak menjanjikan lagi," ungkap Wakil Ketua DPRD Kalbar Suriansyah, Rabu (11/04/2018).

Baca: Dekan Teknik Untan Paparkan Persoalan Transportasi dan Dampaknya

Ia mengakui hingga kini masyarakat yang bekerja dan bertahan sebagai petani dikarenakan tiga hal. Pertama, budaya suatu daerah yang rata-rata penduduknya sebagai petani. Kedua, tidak ada pilihan lain. Ketiga, sumber daya dan kesempatan yang ada hanya di bidang pertanian.

"Karena keterpaksaan, tiga hal itu yang menyebabkan petani bertahan," terangnya.

Politisi Gerindra ini menambahkan tidak menariknya bidang pertanian disebabkan lantaran berdasarkan pengalaman yang ada di masyarakat. Pekerjaan bidang pertanian dinilai tidak mencukupi kehidupan atau hanya mencukupi sebagian.

"Dalam artian, ada anggapan yang menyatakan bekerja sebagai
petani itu tidak mensejahterakan," jelasnya.

Halaman
123
Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Didit Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved