BKSDA Kalimantan Barat Ajak Masyarakat Turut Menjaga dan Melestarikan Satwa Dilindungi

Kejadian luar biasa 21 ekor penyuh mati sepanjang Februari-april 2018, BKSDA minta masyarakat turut terlibat

BKSDA Kalimantan Barat Ajak Masyarakat Turut Menjaga dan Melestarikan Satwa Dilindungi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/BELLA
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Sadtata Noor 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kejadian luar biasa 21 ekor penyuh mati sepanjang Februari-april 2018, BKSDA minta masyarakat turut terlibat dalam upaya menjaga kelestarian hewan yang dilindungi itu.

" Dalam kasus ini, tidak hanya BKSDA yang melakukan berbagai upaya, dengan segala keterbatasan yang kami miliki kami berharap agar masyarakat juga ikut terlibat. Kami berharap agar masyarakat lebih peduli terhadap kelestarian penyu maupun satwa-satwa liar lainnya, " kata Sadtata saat gelar jumpa pers pada Senin (09/04 /2018).

Saat ini, penyu memiliki status Appendix I CITES, itu artinya keberadaan penyu terancam punah.

Baca: Kejadian Luar Biasa, 21 Ekor Penyuh Mati di Pesisir Pantai Paloh

Penyu juga masuk ke dalam daftar satwa dilindungi yang statusnya masuk dalam perlindungan PP 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, namun peraturan pemerintah saja tidak cukup, menurut Sadtata peran serta masyarakat sangat dibutuhkan.

" Pemberian status perlindungan saja tidak cukup, jika tidak diiringi dengan tindakan nyata dalam melakukan upaya-upaya konservasi. Mengingat pantai sepanjang 63 km di Pesisir Paloh merupakan habitat pendaratan terbesar penyu di Kalimantan Barat. Tidak hanya populasi penyu yang saat ini terancam, bahkan habitat penyu pun ikut terancam dengan adanya aktivitas konversi lahan untuk berbagai peruntukan seperti pengembangan dan pembangunan wilayah. Diharapkan dengan kepedulian kita akan konservasi penyu, kelestarian penyu akan terwujud, " himbaunya.

Baca: 752 Pekerja Migran Indonesia Sedang Proses di Disnakertrans dan LTSA-P2TKLN Sambas

Menurut Sadtata, BKSDA sendiri telah melakukan upaya terkait pelestarian penyu  melalui Suaka Penyu.

"Diharapkan dengan adanya Suaka Penyu tersebut kegiatan-kegiatan pelestarian penyu baik yang berada di dalam kawasan konservasi TWA Tanjung Belimbing, maupun di luar kawasan konservasi dapat saling bersinergi," harapnya.

Terkait pengelolaan suaka penyu tersebut, dalam waktu dekat Balai KSDA Kalimantan Barat akan mengundang berbagai pihak, yaitu Pemerintah Kabupaten Sambas, perguruan tinggi, instansi terkait, mitra konservasi serta masyarakat Kecamatan Paloh untuk membahas lebih lanjut mengenai pelaksanaan program suaka penyu ke depan.

"Sekali lagi kami berharap, agar masyarakat juga turut terlibat dalam upaya menjaga dan melestarikan penyu serta berbagai satwa dilindungi lainnya," imbau Sadtata. 

Penulis: Rizki Fadriani
Editor: Septi Dwisabrina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved