Breaking News:

BKSDA Kalimantan Barat Gelar Pelatihan Mitigasi Terjadinya Konflik Manusia dengan Orangutan

Alih fungsi kawasan hutan sebagai habitat orangutan, menjadi lahan perkebunan dan Hutan Tanaman Industri (HTI) sebabkan orangutan diburu dan dibunuh

Penulis: Rizki Fadriani | Editor: Madrosid
TRIBUNFILE/ISTIMEWA
Suasana Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia, dengan tematik Meminimalkan Konflik Manusia dan Orangutan di Lanskap Hutan Sungai Purun Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah pada (02-04/04/2018). 

Ketidaktahuan masyarakat, terhadap upaya mitigasi sering berujung kepada jalan pintas yaitu membunuh orangutan.

“Ini salah satu upaya kita untuk menekan konflik manusia dan orangutan. Sebelum terjadi konflik, sebaiknya dilakukan langkah-langkah antisipasi. Dan ini harus disertai kemauan manusianya sendiri, sehingga secara ekologi populasi spesiesnya terjaga dan secara sosial kehidupan masyarakat juga terjaga,” kata Sadtata Noor Adirahmanta, selaku Kepala Balai KSDA Kalbar.

Menurutnya, salah satu penyebab utama dari penurunan jumlah populasi satwa liar di Kalimantan Barat, khususnya spesies orangutan adalah eksploitasi melalui perburuan untuk tujuan perdagangan, pemeliharaan, dan konsumsi.

Baca: Segera Laporkan Jika Ada Yang Menjual Atau Memelihara Orangutan

Penyebab lainnya adalah fragmentasi habitat akibat deforestasi yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan, pembalakan liar, dan konversi hutan menjadi areal budidaya.

Di Indonesia, dalam sepuluh tahun terakhir sudah menjadi isu nasional yang sering mengemuka dan diangkat di berbagai media serta forum-forum diskusi.

Hasil pemantauan media, dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir (2010-2017) terdapat tujuh kejadian orangutan masuk ke perkampungan warga di Desa Rasau, Desa Sungai Purun, Desa Peniraman, dan Desa Wajok, Kabupaten Mempawah.

Manajer Program Kalimantan Barat WWF-Indonesia Albertus Tjiu mengatakan bahwa manusia sebenarnya masih berkerabat dekat dengan spesies orangutan.

“Jika kita bersama-sama menjaga alam tempat spesies ini hidup, tentunya hal itu juga akan berdampak baik pada kehidupan kita. Habitatnya baik, pakannya pasti cukup, sehingga tidak mengganggu wilayah atau kawasan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, misalnya kebun. Ini yang perlu kita pahami bersama, kita sepakati dan jalankan komitmennya,” katanya.

Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia guna meminimalisasi potensi konflik manusia dengan orangutan di Lanskap Hutan Sungai Purun dan sekitarnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved