Sempat Jadi Rebutan, Negara Ini Bakal Usulkan Tempe Jadi Warisan Budaya UNESCO
Tempe akan diusulkan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO pada 2021
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Tri Pandito Wibowo
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID -Tempe akan diusulkan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO pada 2021.
Dilansir dari The Jakarta Post, Made Astawan, ketua Forum Tempe Indonesia, mengatakan bahwa tempe harus diakui sebagai warisan budaya nasional.
"Kami bersyukur bahwa tempe diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai warisan budaya nasional Oktober lalu. Ini meyakinkan kami untuk membidik UNESCO 2021 untuk mendapatkan pengakuan internasional," katanya.
Baca: Akan Menikah dengan Prince Harry, Penampilan Meghan Markle Jadi Sorotan Warganet
Astawan mengatakan dengan tempe di daftar warisan budaya UNESCO, orang Indonesia, terutama anak muda yang kreatif, akan membawa lebih banyak inovasi untuk makanan populer.
"Sejak batik diakui oleh UNESCO pada tahun 2009, generasi muda telah menunjukkan minat yang besar dalam mengenakan batik," katanya.
Dia menyatakan harapan bahwa pemuda Indonesia akan menjadi lebih antusias tentang makan tempe, melihat bahwa itu secara luas disajikan di hotel, termasuk dalam makanan di pesawat, dan telah diterima di negara-negara seperti Jepang, Inggris dan Amerika Serikat.
Dia merasa yakin bahwa tempe akan diterima oleh UNESCO sebagai pengakuan dari Indonesia meskipun itu juga diusulkan oleh negara lain.
"Kami memberikan bukti kuat, yaitu dalam cerita Serat Centhini yang menyatakan tempe telah ada sejak abad ke-16," tambahnya.
Baca: Pemkot Pontianak Terus Benahi Kampung Sawah Yang Dulunya Kumuh
Astawan mengatakan orang Indonesia harus mampu menghasilkan tempe berkualitas baik agar sesuai dengan standar internasional.
"Membuat tempe itu mudah dan murah, tetapi langkah yang sulit adalah memenuhi standar. Jadi kita harus meningkatkan sarana produksi kita, seperti dengan memakai sarung tangan atau menggunakan drum stainless steel daripada yang digunakan," katanya.
Agustinus Ngadiman, seorang dosen di Sekolah Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, mengatakan bahwa tempe pantas menjadi warisan budaya dunia yang melihat keberadaannya yang panjang.
"Tempe selalu digunakan sebagai simbol tradisi. Di Yogyakarta dan Sleman, itu adalah bagian dari tumpeng pada acara-acara khusus," katanya.
Saat ini, hanya sekitar 30 persen kedelai berasal dari petani lokal, sementara 70 persen diimpor. Ngadiman menyatakan harapan bahwa pemerintah akan mengambil peran yang lebih aktif dalam produksi tempe, misalnya dengan meningkatkan produksi kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan negara pada kedelai impor.
Yuk! Follow Akun Instagram @tribunpontianak Berikut Ini:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/tempe_20180217_112941.jpg)