Eksekusi Mati Bandar Narkoba

Ong Bok Seong adalah terpidana mati kasus narkotika asal Malaysia yang mengontrol peredaran narkoba dari dalam Lapas Kelas II Pontianak.

Eksekusi Mati Bandar Narkoba
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Ong Bok Seong, terpidana mati asal Malaysia yang mengontrol peredaran narkoba dari dalam Lapas Klas II A Pontianak, diangkat menuju bus usai ekspose dua kasus pemberantasan narkoba di Mapolda Kalimantan Barat, Rabu (14/3/2018) pukul 13.30 WIB. Polda Kalbar menggagalkan peredaran lima kilogram sabu, sedangkan BNN bersama Bea Cukai menggagalkan peredaran dua kilogram sabu dan 30ribu pil ekstasi yang menewaskan satu warga negara Malaysia. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

Kita tentu masih ingat pada 2016, 10 gembong narkoba tiba-tiba disuruh balik badan dari tiang eksekusi mati.

Hingga tahun 2017, tak satu pun gembong narkoba yang menghadapi regu tembak. Fakta yang makin bikin geram, Toge, datu gembong narkoba yang mengantongi dua vonis mati dan putusan 12 tahun penjara, hingga kini masih tidur nyenyak di selnya di Lapas Tanjung Gusta Medan dan masih bisa memasok barang-barang haram dari luar ke Indonesia.

Alih-alih mengurangi atau memberangus habis peredaran, aparat kejaksaan sebagai eksekutor tak juga mengeksekusi para gembong. Jaksa Agung M Prasetyo selalu berkelit ditanya soal eksekusi mati para gembong narkoba.

Kita tentu bertanya-tanya mengapa jaksa agung tak bernafsu menyerahkan para gembong narkoba ke depan regu tembak.

Seharusnya, dia melihat fakta riil yang terjadi di negeri ini. Kalau memang jaksa agung terganjal oleh hak asasi manusia (HAM), tentunya harus berpikir bagaimana nasib generasi muda negeri ini terus dicekoki oleh para gembong narkoba yang masih dibiarkan mengatur dan memasok narkoba dari luar sana.

Dan, berton-ton serbuk setan terus membanjiri negeri ini. Sampai kapan? (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved