Skandal Suap di Pengadilan

Berdasarkan data KPK sepanjang tahun 2005-2016, setidaknya terdapat sekitar 41 penegak hukum yang terlibat dalam kasus korupsi.

Skandal Suap di Pengadilan
Kompas.com
Panitera Pengganti PN Tangerang Tuti Atika 

Ketika masyarakat mengharapkan pemberantasan korupsi, justru peradilan kembali tercoreng oleh apa yang dilakukan seorang hakim sebagai benteng terakhir penegak hukum.

Padahal Mahkamah Agung (MA) sudah mengerahkan berbagai upaya untuk mencegah para hakimnya korupsi. Gaji hakim juga sudah besar.

Seperti hakim Wahyu yang punya masa kerja 25 tahun, menerima gaji pokok ditambah tunjangan sebagai hakim sekitar Rp 21 juta. Aturan yang dibuat juga ketat.

Ada pula sistem pelayanan terpadu untuk menghindari adanya potensi penyelewengan.

Artinya, sudah berusaha diperbaiki di segala sektor, tetapi ternyata kembali ke oknum penegak hukumnya, tidak bisa berubah dan masih mengulangi perbuatan negatif ini. Tampaknya pola hidup dan integritas rasa bangga terhadap profesi hakim telah pudar, sehingga tak tahan dengan banyaknya godaan yang menghampiri para hakim untuk berbuat korup.

Mengutip Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan, hakim Wahyu Widya Nurfitri sudah berulangkali dilaporkan masyarakat karena diduga terlibat suap.

Namun baru kemarin bisa tertangkap tangan, dengan nilai suap yang terbilang kecil dibandingkan dengan gajinya. Ia mau menanggung risiko, mengorbankan kariernya sendiri, nama baik keluarga dan lembaga.

Sebenarnya, Komisi Yudisial (KY) jauh sebelumnya sudah mengingatkan MA untuk menjalankan rekomendasi KY. Menurut juru bicara KY, Farid Wajdi, sepanjang 2017, KY merekomendasikan penjatuhan sanksi terhadap 58 orang hakim yang dinyatakan terbukti melanggar Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH).

Sayangnya, tidak semua rekomendasi sanksi ini langsung ditindaklanjuti MA dengan berbagai alasan. Jika MA masih mengabaikan rekomendasi KY, Farid dalam pernyataan tertulis, Selasa (13/3) menyatakan yakin penangkapan terhadap hakim akan terus terjadi.

"Kami pastikan tragedi yang sama akan selalu berulang melalui peran lembaga lain".

Halaman
123
Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved