Indonesia Bersuara Kalbar Diskusikan Upaya Menangkal Paham Radikalisme

Indonesia Bersuara Kalbar selenggarakan Diskusi Publik bertemakan Reposisi Peran Pemuda Dalam Perspektif Millenial

TRIBUNFILE/ISTIMEWA
Suasana Diskusi Publik bertemakan Reposisi Peran Pemuda Dalam Perspektif Millenial sebagai Upaya Menangkal Paham Radikalisme oleh Indonesia Bersuara Kalimantan Barat di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalbar, Selasa (27/02/2018). 

Citizen Reporter
Ketua Badko HMI
Muhammad Faiz

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Indonesia Bersuara Kalimantan Barat selenggarakan Diskusi Publik bertemakan Reposisi Peran Pemuda Dalam Perspektif Millenial sebagai Upaya Menangkal Paham Radikalisme, Selasa (27/02/2018).

Seminar yang dilaksanakan di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalbar ini menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan.

Eka Hendri AR, M.Si. dari kalangan akademisi IAIN Pontianak, Mayor. Inf. Teguh Rohman dari kalangan militer yang juga Danramil 1207-02/Pontianak Selatan-Tenggara, dan Rachmatul Fitrah dari kalangan pemuda yang juga Ketua PKC PMII Kalbar periode 2015-2017.

Baca: Tiga Desa di Silat Hulu Masih Terisolir, Infrastruktur Belum Tepat Sasaran

Ketua Indonesia Bersuara Kalimantan Barat, Najib Amrullah mengapresiasi para peserta, undangan, dan narasumber yang telah menghadiri acara tersebut. Ia juga menyampaikan tujuan dari diselenggarakannya kegiatan tersebut.

"Terima kasih kepada para peserta, undangan, dan narasumber yang telah hadir pada acara Diskusi Publik Indonesia Bersuara Kalimantan Barat. Secara spesifik, tujuan dilaksanakannya diskusi pada hari ini ialah menjawab segala kegalauan dari para pemuda, khususnya generasi millenial tentang maksud dari paham radikalisme. Saya mengharapkan kegiatan ini bisa dilaksanakan oleh organisasi-organisasi lainnya agar generasi millenial semakin tercerahkan dari paham radikalisme," katanya, Selasa (27/02/2018).

Kasubdit III Dit. Intelkam Polda Kalbar, Abdur Rosid, S.Ag., M.H. dalam sambutannya mengingatkan kepada para pemuda untuk berhati-hati dalam menggunakan teknologi.

"Globalisasi ditandai oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat. Satu di antara dampak negatif dari pesatnya kemajuan teknologi ialah semakin mudahnya penyebaran paham radikalisme. Contohnya ISIS. Mereka yang beroperasi jauh dari negara kita, berkat kemajuan teknologi dapat dengan mudah merekrut anggota dan menyebarkan paham-paham mereka di tanah air," katanya.

Dalam penyampaian materi, Eka Hendri menjelaskan bahwa radikalisme kerap disalahgunakan sebagai strategi politik.

Halaman
12
Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved