Atbah Inginkan Citrus Center Optimal Kembangkan Produk Olahan Jeruk Sambas

Peluang hadirnya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Aruk, menurut Atbah dapat dimanfaatkan lebih besar. Khususnya dalam bidang ekspor-impor.

Atbah Inginkan Citrus Center Optimal Kembangkan Produk Olahan Jeruk Sambas
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / Tito Ramadhani
Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili mengungkapkan, mengenai Citrus Center di Tebas, ia telah berkomunikasi dengan pihak berwenang di Pontianak.

Sehingga, Atbah terus berupaya mendorong agar Citrus Center dapat semakin berfungsi optimal, untuk mengembangkan tidak hanya dalam pengembangan pertanian tanaman jeruk, namun juga hingga pengembangan produk olahan dari jeruk Sambas.

Baca: Aksi Prajurit Lantamal XII Pontianak Bongkar Pasang Senjata Organik SS1

"Saya sudah berkomunikasi dengan pihak balai di Pontianak, agar mengoptimalisasi Citrus Center di Tebas. Karena bagaimana pun komoditas unggulan kita sesungguhnya masih jeruk Sambas.
Oleh karena itu, paling tidak perhatian kita untuk meningkatkan produksi tanam jeruk Sambas ini semakin meningkat, bukan hanya pada produksi bahan mentahnya tetapi kita harapkan justru adalah olahannya," ungkapnya Kamis (22/2/2018).

Baca: Gitaris Slank Abdee Negara Gugat Cerai Istrinya, Dimediasi Mereka Malah Seperti Ini!

Ke depan, menurut Atbah harus ada pengembangan paradigma.

Tidak melulu menjual buah jeruk saja, namun bisa mengemasnya menjadi produk olahan.

Sehingga tidak dipengaruhi waktu panen saja, karena produk olahan akan dapat bertahan lebih lama.

"Karena ke depan kita harus sudah mengolah, berpikir mengolah. Ketika kita berpikir mengolah, kita tidak berpikir tentang produksi atau industri besar, tetapi kita mulai dari mungkin 10 sampai 20 pengusaha dulu dengan pabrik yang sangat sederhana, tetapi mampu menghasilkan hasil olahan yang bisa kita jual, dan brand atau merek yang kita miliki. Untuk seterusnya kita berkembang dan bisa menjadi model bagi pengusaha-pengusaha yang lain. Jadi kita berpikir dua sampai tiga rumah punya alat yang bisa mengolah, sebab ke depan tidak bisa lagi kita berpikir tentang yang namanya menjual mentah," jelasnya.

Peluang hadirnya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Aruk, menurut Atbah dapat dimanfaatkan lebih besar. Khususnya dalam bidang ekspor-impor.

"Kemudian ke depan yang juga kita pikirkan adalah tidak ada lagi panen raya, yang ada adalah panen terus-menerus, sehingga harga tetap stabil. Apalagi dibukanya Pos Lintas Batas Negara (PLBN), ekspor-impor, maka kebutuhan akan bahan mentah dan olahan akan semakin meningkat, karena bisa kita jual ke negara tetangga. Dulu ketika Rp 3 ribu per kilo harganya di sini, di sana mencapai RM 7, kan luar biasa itu," terangnya.

Hal ini cukup beralasan, lantaran menurut Atbah telah ada kesepakatan dalam bidang perdagangan kedua wilayah negara bertetangga antara Republik Indonesia dan Malaysia, yang terjalin dalam kesepakatan Sosek Malindo.

"Jadi ini kita tindaklanjuti lewat yang namanya kesepakatan Sosek Malindo. Di dalam Sosek Malindo itu ada kesepakatan dagang dan bisnis, dimana Sambas dan Lundu, Sambas dan Sematan atau Sambas dan Kuching bisa melakukan kerjasama dalam bidang perdagangan," sambungnya.

Penulis: Tito Ramadhani
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved