PT Agrolestari Mandiri Berikan Bantuan Rp 600 Juta untuk Masyarakat

PT Agrolestari Mandiri di Kecamatan Nanga Tayap menyelenggarakan Penyerahan Penghargaan Peogram Desa Makmur Peduli Api 2017.

Penulis: Subandi | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SUBANDI
Perwakilan PT Agrolestari Mandiri memberikan secara simbolis bantuan uang untuk pembangunan infrastruktur kepada satu di antara kepada desa di Kecamatan Nanga Tayap, Rabu (14/2/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - PT Agrolestari Mandiri di Kecamatan Nanga Tayap menyelenggarakan Penyerahan Penghargaan Peogram Desa Makmur Peduli Api 2017 di gedungnya di Nanga Tayap, Rabu (14/2/2018).

Tema kegiatannya "Kemitraan antar perusahaan dan masyarakat dalam cegah kebakaran dan wujudkan kesejahteraan masyarakat". 

CEO Perkebunan Sinarmas Wilayah Kalimantan Barat, Susanto mengatakan Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) Sinarmas Agribusiness and Food telah menyelesaikan tahun yang sukses dengan berkurangnya titik panas dan kebakaran di 17 desa di Kalimantan Barat dan Jambi.

Lantaran pada tahun 2017 jumlah titik panas dan titik api di desa peserta Program DMPA binaannya telah menurun menjadi 13 titik panas dan 9 titik api. Sebelumnya 25 titik panas dan tujuh titik api pada 2016 dan 423 titik panas dan 271 titik api pada 2015. 

“Jadi delapan di antara 17 desa binaan kita di Kecamatan Nanga Tayap mendapatkan bantuan infrastruktur senilai Rp 600 juta. Bantuan ini sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya desa tersebut dalam menjaga kebakaran di daerah mereka pada 2017,” kata Susanto melalui rilisnya kepada awak media di Ketapang, Rabu (14/2/2017).  

“Desa-desa itu yakni Tajok Kayong, Nanga Tayap, Lembah Hijau 1, Lembah Hijau 2, Siantau Raya dan Sungai Kelik. Serta Desa Simpang Tiga Sembelangaan dan Tanjung Medan,” paparnya.

Ia menjelaskan Program DMPA telah mengurangi kebakaran hutan, perkebunan dan Iahan di daerah sekitar operasional perkebunan Sinarmasa. Pada hal pada tahun sebelumnya khususnya pada 2014 dan 2015 hampir di seluruh Indonesia terjadi kebakaran.

“Sebab itu pencapaian ini tidak akan mungkin terjadi tanpa kerja sama Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat, Masyarakat Siaga Api. Serta anggota masyarakat petani dan Pemerintah daerah untuk mengatasi, mencegah dan menekan bencana kebakaran,” uajrnya.

“Jadi kami ingin mengulangi kesuksesan ini pada 2018. Serta mengajak semua pihak untuk tetap waspada saat memasuki musim kering dan terus melindungi hutan dan masyarakat kita,” sambungnya.

Ia menambahkan selain itu pada tahun yang sama program ini diperluas dengan menambahkan program pengembangan masyarakat yang fokus pada pengembangan plot pertanian organik. Program ini memungkinkan penduduk desa menanam berbagai macam sayuran untuk kebutuhan pangan.

Sehingga memberikan sumber pendapatan tambahan melalui penjualan pertanian ke pasar lokal di Kalimantan Barat. “Menyusul keberhasilan program DMPA yang dimulai pada 2016. Maka kami dengan senang hati melaporkan bahwa masyarakat di Ketapang tetap waspada dan berhasil meminimalkan kebakaran pada 2017 lalu,” jelasnya.

“Jadi selain fokus pada pencegahan kebakaran. Kami melihat kebutuhan masyarakat yang lebih Iuas dari desa binaan khususnya yang di Kalimantan Barat. Kami mengembangkan Program PET (Pertanian Ekologi Terpadu-red),” lanjutnya.

Ia menjelaskan tujuan program pertanian ini untuk membantu mendidik masyarakat desa tentang metode pertanian organik berkelanjutan. Sehingga yang dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizi sendiri. Kemudian memastikan ketahanan pangan dan mendukung pembangunan ekonomi.

“Sejauh ini sudah ada tiga desa percontohan dengan lebih dari 60 anggota petani bergabung dengan inisiatif kami, dengan 70 persen di antaranya adalah perempuan. Kami berharap dengan bimbingan ini, para petani dapat menduplikasi proses tersebut di kebun mereka sendiri,” ucapnya.  

 Ia menambahkan para peserta program PET maupun keluarganya telah menikmati manfaat dari program tersebut. Lantaran setiap keluarga mampu menghemat hingga Rp 300.000 per bulan dari pemotongan belanja sayuran dan rempah-rempah.

Sebab kebutuhan itu sekarang bisa mereka penuhi dari kebun mereka sendiri. Selain itu, mereka menerima Rp 500.000 setiap bulannya dengan menjual sayuran ke desa-desa sekitar dari PET. Khususnya setelah dikurangi untuk kebutuhan pangan sendiri.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved