Kepala BPS Kalbar Sebut Banyak yang Salah Kaprah Soal Data Statistik

Penyelenggara kegiatannya adalah instansi pemerintah terkait, baik secara mandiri atau bersama-sama dengan BPS.

Kepala BPS Kalbar Sebut Banyak yang Salah Kaprah Soal Data Statistik
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / MASKARTINI
Kepala BPS Kalbar, Pitono 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Pitono mengungkapkan banyak yang salah kaprah membaca dan menggunakan data statistik. Sesuai dengan UU Nomor 16 tahun 1997, pada dasarnya kegiatan statistik dibagi menjadi tiga jenis.

Pertama, statistik dasar adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk keperluan yang bersifat luas, baik bagi pemerintah maupun masyarakat, yang memiliki ciri-ciri lintas sektoral, berskala nasional, makro yang penyelenggara kegiatannya adalah BPS. 

Kedua, statistik sektoral adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan instansi sektoral yang merupakan tugas pokok instansi yang bersangkutan. Penyelenggara kegiatannya adalah instansi pemerintah terkait, baik secara mandiri atau bersama-sama dengan BPS. 

Ketiga, ia mengatakan adalah statistik khusus yang merupakan statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan spesifik dunia usaha, pendidikan, sosial budaya, dan kepentingan lain. Penyelenggaraannya dilakukan oleh lembaga, organisasi, perorangan, dan atau unsur masyarakat lainnya secara mandiri atau bersama-sama dengan BPS. 

Cara memperoleh dan diseminasi data statistik tahap awal dari suatu kegiatan statistik (sensus dan survei) adalah perencanaan. Pada tahap ini BPS  merancang kuesioner, konsep, definisi, dan metodologi yang akan digunakan. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan error yang akan terjadi pada  suatu kegiatan statistik. 

Konsep dan definisi dari indikator yang dihasilkan juga didiskusikan dan dikoordinasikan dengan Forum Masyarakat Statistik (FMS) dan stakeholder terkait. Sebagai lembaga statistik resmi (official statistics institution), BPS bekerja berdasarkan terminologi yang sudah baku dan disepakati secara internasional. 

Hal ini penting agar ada keseragaman, konsistensi, dan keterbandingan data antar negara, yang merupakan kelaziman dalam statistik resmi. BPS juga harus mematuhi 10 Fundamental Principles of Official Statistics yang telah digariskan oleh Divisi Statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Statistics Division). 

Tahap selanjutnya kata Pitono adalah pendataan di lapangan. Pada tahap ini, BPS dibantu tenaga mitra statistik. Sebelum terjun ke lapangan, petugas  dilatih terlebih dahulu selama kurang lebih 3 (tiga) hari untuk menyamakan persepsi tentang metodologi, konsep, dan definisi. Pitono mengatakan pelatihan tersebut juga dilakukan role playing (latihan wawancara dengan responden) untuk memudahkan petugas pada saat pendataan di lapangan. 

Di samping itu, petugas juga dibekali surat tugas dan peta wilayah kerja agar tidak sampai terjadi lewat cacah maupun duplikasi pendataan.  Tahap selanjutnya adalah pengolahan pra komputer meliputi batching dan editing coding, dilanjutkan dengan pengolahan menggunakan komputer (entri data, validasi, dan tabulasi). 

Halaman
123
Penulis: Maskartini
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved