Berharap Jangan Perprovokasi Berita Tak Benar

Terkait tudingan Suprianto mantan Operator Alat Berat CBNT WII 7A/ASM PT Agro Sejahtera Mandiri (ASM)‎ di Kecamatan Kendawan melalui media.

Berharap Jangan Perprovokasi Berita Tak Benar
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SUBANDI
Corporate Affair PT ASM‎, Wilson Situmorang saat diwawancarai awak media di Ketapang, Minggu (4/2). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Terkait tudingan Suprianto mantan Operator Alat Berat CBNT WII 7A/ASM PT Agro Sejahtera Mandiri (ASM)‎ di Kecamatan Kendawan melalui media. Bahwa ia telah dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak oleh PT ASM.

Corporate Affair PT ASM‎, Wilson Situmorang menegaskan tudingan itu tak benar. Menurutnya mantan karyawan PT ASM itu dilakukan PHK sudah melalui proses. Bahkan sudah ada surat pernyataan bersama di hadapan polisi.

Ia menceritakan Suprianto di PHK karena bermasalah sama Manager Bengkuang Raya Estate (BRYE) PT ASM, Tigor P Sihombing pada November 2017. Ketika itu Suprianto pernah marah-marah sambil membawa parang mendatangi Tigor.

“Karena merasa terancam kemudian perusahaan melaporkan Suprianto itu ke Mapolsek Kendawangan pada 20 November 2017 yang diwakilkan oleh Tigor,” kata Wilson kepada awak media di Ketapang, Minggu (4/2).

Lantaran takut laporan pihak PT AMS tersebut berlanjut ke proses pidana. Maka pihak keluarga Suprianto mendatangi pihak perusahaan. Serta memohon agar mencabut laporan terhadap Suprianto di Kepolisian tersebut.

Kemudian pihak PT ASM mau mencabut laporan kepolisian tersebut. Namun dengan syarat-syarat tertentu yang dibuat dalam surat pernyataan dan disepakati bersama. Surat pernyataan itu antara Tigor sebagai pelapor dan Suprianto sebagai terlapor.

Dalam surat pernyataan itu Tigor sebagai pihak pertama dan Suprianto sebagai pihak kedua. Isi surat pernyataannya menyatakan pihak pertama akan mencabut Laporan Kepolisian di Polsek Kendawangan terhadap pihak kedua.

Pihak kedua akan di PHK sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kemudian pihak kedua akan menyelesaikan semua pekerjaan atau SPK (surat perintah kerja) yang ada di PT ASM sesuai prosedur yang belaku dari perusahaan.

Serta tidak akan menuntut kembali perpanjangan dari SPK tersebut. Priode SPK sampai dengan 15 Desember 2017 unit angkut karyawan dan jangkos di Estate BRYE. Pihak kedua bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban serta situasi kondusif di manapun berada.

Apabila dikemudian hari terjadi sesuatu yang melanggar dari surat peryataan ini. Maka kedua pihak bersedia diproses menurut hukum yang berlaku. “Surat pernyataan itu dibuat pada Senin, 4 Desember 2017 di Polsek Kendawangan,” ungkapnya.

Ia menegaskan terhadap hak Suprianto yang kena PHK juga akan diberikan perusahaan sesuai UU Ketenagakerjaan. Namun Suprianto sendiri tak mau menerima pesangonnya karena menganggap tak sesuai aturan.

“Jadi kita harap masyarakat khususnya di Kendawangan jangan terprovokasi berita tak benar terkait Suprianto ini. Jangan sampai melakukan hal tak diinginkan karena menganggap PT ASM sewenang-wenang pada karyawannya,” lanjutnya.

Sebab itu pihaknya menyampaikan kepada awak media di Ketapang agar semua mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. “Perlu diketahui juga Suprioanto ini dahulu pernah masuk penjara enam bulan karena kejadian yang hampir sama,” ungkapnya.

“Sehingga Suprianto itu sempat dipecat juga. Namun karena manager baru akhirnya dia diterima lagi bekerja di PT ASM. Jadi perusahaan sudah cukup baik mau menerima ia bekerja lagi tapi ternyata masih mengulangi kesalahannya,” tegasnya.

Penulis: Subandi
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved