Ini Penjelasan Direktur Utama PDAM Tirta Khatulistiwa Mengenai Keruhnya Air di Siantan Hulu

Lajito mengatakan bahwa ia telah menerjunkan timnya sejak hari sabtu untuk mengatasi keluhan warga di Pontianak Utara

Ini Penjelasan Direktur Utama PDAM Tirta Khatulistiwa Mengenai Keruhnya Air di Siantan Hulu
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ FERRYANTO
PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak Ferryanto

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID.PONTIANAK- Direktur Utama PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak Lajito. ST memohon maaf kepada masyarakat Pontianak Utara, perihal air PDAM yang tidak jernih seperti biasanya. Selasa (30/01/2018) sore.

Lajito mengatakan bahwa ia telah menerjunkan timnya sejak hari sabtu untuk mengatasi keluhan warga di Pontianak Utara, namun bila masih terdapat air yang tidak jernih di beberapa titik, ia mengatakan bahwa mungkin masih terdapat sisa air di pipa yang produksi di hari sebelumnya yang mana bila konsumen membuka kran, maka air yang lama masih akan keluar belum terganti dengan air yang sudah jernih.

Baca: Warga Kelurahan Siantan Hulu Keluhkan Air PDAM Keruh

PDAM Tirta Khatulistiwa mempunyai 4 titik pengolahan Air yakni  Imam Bonjol, Parit Mayor, Jeruju, dan Selat Panjang, dimana 3 titik bersumber dari sungai kapuas, dan 1 titik di Selat Panjang bersumber air dari sungai Landak.

Baca: Kisah Manusia Kayu Asal Kalbar Saat Telepon Istrinya Sampai Menangis

Ia menjelaskan bahwa karakteristik air baku Sungai Kapuas dan Sungai Landak itu berbeda.

"Bila dilihat dari citra satelit warna air sungai Kapuas dan Landak itu berbeda, kalau sungai kapuas itu kuning, dan sungai landak coklat," ungkapnya.

Iapun menambahkan bahwa warna air sungai Landak yang coklat ini di perparah akibat hujan yang menyebabkan banjir beberapa waktu yang lalu di daerah Hulu.

Beberapa hari lalu air tersebut baru surut dan mengalirkan air gambut dalam jumlah banyak ke Sungai Landak.

"Daerah Pontianak Utara ini kan Pengolahannya di Selat Panjang, dan ini kan Air Bakunya berbeda, terus di tambah hujan beberapa waktu yang lalu, air ini tergenang di hulu dan kemarin beberapa hari yang lalu air itu baru surut ke Sungai Landak, dan kadar warnanya itu biasanya 350, tapi kemarin kadar warnanya 750 sampai 800 sehingga tinggi sekali warnanya, lalu PH nya yang biasanya air baku 6,7 di atas 6 lah, tapi kemarin PH ny 5,"tuturnya.

Ia mengatakan bahwa untuk mengolah air gambut dengan jumlah warna di atas 750 lebih sulit.

"dengan kadar warna yang sampai 750 lebih ini, setelah kami melakukan evaluasi pengolahan di Pontianak ini memang tidak dirancang untuk pengolahan air gambut dengan kadar warna yang ada, sehingga warna air gambut ini sulit untuk berbuah menjadi jernih, terlebih dengan tambahan air gambut dari hulu karena hujan, warna Organik tidak bisa di saring dengan media pasir, namun dapat di kurangi dengan menambahkan Kaolin yaitu tanah liat dalam tahap pengolahannya agar bisa menjadi jernih" ungkapnya.

Lajito mengatakan bahwa pengolahan air di Pontianak tidak dirancang untuk gambut, sehingga dengan meningkatnya jumlah air gambut dengan kadar warna organik yang tinggi ke sungai Landak beberapa hari yang lalu menyebabkan warnanya tidak hilang keseluruhan saat di olah di instalasi.

"Kedepan kami akan melakukan perawatan khusus dan akan menyediakan kaolin untuk didaerah Pontianak Utara untuk mengatasi warna air gambut ini, serta kami juga akan meningkatkan SOP di titik pengolahan, seperti pemantauan PH air, harus disesuaikan nantinya," Ungkap Lajito, ST Dirut PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak.

Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved