Cerita Naya Yang Tak Teraih Dalam Bulan Kertas

Semakin ingin ia menguak misteri yang menyelubungi Naya, semakin gadis itu menjauh dan tak teraih...

Penulis: Ayu Nadila | Editor: Tri Pandito Wibowo
Net
Novel Bulan Kertas 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – “Mereka bilang aku cantik hanya untuk merayu. Tapi, aku tahu kau tidak bermaksud begitu, makanya aku senang.” “Sepertinya kau sedang memujiku,” kataku, kembali tersipu. “Kau beda dengan anak lainnya!”

Rafa memang berbeda dengan remaja lainnya, yang membuatnya tersisih dan nyaris tak punya teman. Begitu pun Naya, gadis itu seolah hidup di dunianya sendiri dan kerap menutup diri.

Keduanya memiliki kesamaan, sama-sama berbeda dengan orang kebanyakan, sesuatu yang membuat Rafa berpikir bisa membuat mereka terus bersama dan tak terpisahkan. Ketika Rafa mengetahui lebih banyak lagi tentang Naya, mengenai bulan serupa kertas, mimpi-mimpi dunia lain, ketakutan-ketakutan yang tak beralasan, dan tentang perasaan gadis itu padanya.

Baca: Lembutnya Vanilla Rum dan Mocca Cheese Nut ala Mercure Hotel Pontianak Lumer di Mulut

Rafa mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada gadis itu. Puluhan purnama Rafa menyeret-nyeret kisah cintanya dengan Naya. Sejak di bangku SMA hingga perguruan tinggi. Dari kota kecil Suekoen hingga ke Banda, dan berakhir di dataran tinggi Takengon. Semakin ingin ia menguak misteri yang menyelubungi Naya, semakin gadis itu menjauh dan tak teraih.

Mau tau lanjutan ceritanya? Baca novel Bulan Kertas karya Arafat Nur.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved