Banyak Warga Pontianak yang Belum Tahu, Ternyata ini Arti Dibalik Motif Corak Insang!

Corak insang yang memiliki motif sederhana seperti riak-riak sungai dan insang ikan dikatakannya menjadi daya tarik tersendiri.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/CLAUDIA LIBERANI
Ketua Bagian Promosi Dekranasda Pontianak Hilfira Hamid, saat menghadiri press conference PFDC di rumah Jepin, Sabtu (16/12/2017). Dia berharap masyarakat bangga mengenakan kain bermotif corak insang 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Claudia Liberani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Bagian Promosi Dekranasda Pontianak Hilfira Hamid mendukung ajang Pontianak Fashion Design Competition (PFDC).

Menurutnya ajang seperti ini adalah suatu cara untuk mempromosikan corak insang yang telah menjadi hak paten Kota Pontianak.

Dia menuturkan saat ini corak insang sudah mulai dikenal masyarakat luas karena usaha untuk mengenalkannya juga semakin gencar dilakukan.

(Baca: 15 Finalis Pontianak Fashion Design Competition akan Pamerkan Karya Corak Insang Mereka ) 

"Dulu yang menggunakan corak insang paling orang-orang tertentu, untuk kegiatan tertentu. Sekarang sudah banyak yang menggunakan kain-kain bermotif corak insang untuk busana kasual," katanya, Sabtu (16/12/2017).

 Hilfira menjadi satu dari narasumber press conference PFDC tampil anggun mengenakan kaftan hitam bercorak etnik.

Baca: BREAKING NEWS: Motor Vs Tanki Air, Seorang Pelajar Tewas dengan Kepala Remuk

Corak insang yang memiliki motif sederhana seperti riak-riak sungai dan insang ikan dikatakannya menjadi daya tarik tersendiri.

Dibalik motif sederhana itu, tersimpan benang merah Kota Pontianak dan kearifan lokal masyarakat suku Melayu di pesisir Sungai Kapuas.

Dahulu masyarakat tepi Sungai Kapuas yang menenun mendapatkan inspirasi dari bentuk insang ikan dan riak sungai yang tenang.

"Untuk itulah kita harus bangga mengenakan kain bermotif corak insang. Setelah pemerintah kota mengusulkannya menjadi hak paten dan diterima, sekarang kita harus rajin mempromosikannya," tambahnya.

Dia berharap masyarakat Pontianak dapat memunculkan kreativitasnya dalam padu padan kain corak insang, sehingga ketertarikan akan keindahan motif ini tidak hanya datang dari masyarakat Kalbar tapi juga masyarakat luar, dengan demikian ekonomi kreatif Pontianak bisa bertumbuh.

"Corak insang ada yang tenun, ada juga yang dibatik, ATBM. Untuk enun lebih mahal, ATBM bisa dipakai semua kalangan. Intinya motif ini sangat unik karena ada bias-bias yang khas, ada juga yang tenun yaitu corak insang bunglon, berubah warna jika bergerak ini dihasilkan oleh benang dan teknik menenun," ujarnya menjelaskan jenis motif corak insang bunglon yang menjadi unggulan.

Penulis: Muzammilul Abrori
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved