Pemkab Sambas Gelar Seminar Nasional Human Trafficking

Pemkab Sambas menggelar seminar nasional dan dialog interaktif tentang Perdagangan Orang (Human Trafficking).

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/TITO RAMADHANI
Dinas P3AP2KB Kabupaten Sambas, menggelar seminar nasional dan dialog interaktif tentang Perdagangan Orang (Human Trafficking) di aula Pendopo Bupati Sambas, Sabtu (9/12/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Dinas Pemberdayan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sambas, menggelar seminar nasional dan dialog interaktif tentang Perdagangan Orang (Human Trafficking) di aula Pendopo Bupati Sambas, Sabtu (9/12/2017).

Seminar dan dialog interaktif ini tak hanya dihadiri Wakil Bupati Sambas, Hairiah. Namun juga menghadirkan sejumlah pembicara yang sama-sama getol memberikan perhatian terhadap penanganan dan pencegahan terjadinya kasus human trafficking di Kabupaten Sambas.

Yakni Ketua Cahaya Perempuan Indonesia, Cut Beatty, dan Ade Yunita, bintang sinetron yang juga selaku Duta Trafficking 2014.

Wakil Bupati Sambas, Hairiah mwngungkapkan, Kabupaten Sambas merupakan wilayah yang sangat rentan terjadinya kasus perdagangan orang.

(Baca: Distan Sambas Kembangkan Benih Padi dan Bibit Jeruk )

Lantaran, wilayah Kabupaten Sambas berbatasan langsung dengan negeri jiran, sehingga sangat memudahkan warga, baik yang berasal dari Kabupaten Sambas maupun dari daerah lain di Indonesia, keluar untuk bekerja ke negeri jiran Malaysia.

"Kabupaten Sambas merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Jadi ketika orang mau pergi ke bekerja ke luar negeri, bebannya tidak banyak. Sangat berbeda ketika mereka dari Jawa, proses perjalanan yang panjang kemudian tidak mengenal seluk-beluk medan. Kalau masyarakat di Kabupaten Sambas, sudah mengenal siapa yang membawanya, siapa yang menunggu di perbatasan, serta siapa yang nantinya menempatkan mereka di tempat kerja," ungkapnya.

Menurut Hairiah, sehingga kondisi tersebut merupakan hal yang lumrah, mengapa masyarakat Kabupaten Sambas lebih ramai yang bekerja ke luar negeri, dibandingkan bekerja di dalam negeri. Karena apabila mereka mau bekerja ke Jakarta tentu akan membutuhkan perjalanan yang lebih jauh.

"Tetapi bekerja di Malaysia itu, lebih dekat belum lagi ada pengaruh keluarga dan teman yang telah bekerja di Malaysia," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Tito Ramadhani
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved