Tiga Nama Tokoh Kalbar Diajukan Jadi Pahlawan, Siapa Mereka?

Dari sekian banyak yang diusulkan Jokowi hanya menetapkan empat orang sebagai Pahlawan Nasional.

Tiga Nama Tokoh Kalbar Diajukan Jadi Pahlawan, Siapa Mereka?
net
Gubernur Kalimantan Barat ke-3, Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray,Masa jabatan (1960 – 1966)

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Pringatan Hari Pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November juga menjadi momentum bagi Presiden Republik Indonesia untuk mengumumkan nama-nama tokoh yang telah diusulkan untuk diberi gelar pahlawan.

Dari sekian banyak yang diusulkan Jokowi hanya menetapkan empat orang sebagai Pahlawan Nasional.

Keempat Pahlawan Nasional baru itu adalah Laksamana Malahayati dari Aceh, Zainuddin Abdul Madjid dari NTB, Mahmud Riayat Syah dari Kepri, dan pendiri HMI Lafran Pane dari Yogyakarta.

Tahun 2017 ini, Kalbar telah mengusulkan tiga orang nama tokoh untuk dinobatkan sebagai pahlawan. Ketiga tokoh tersebut, Sultan Hamid II, Pangeran Nata Kusuma dan Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray.

(Baca: Diduga Penghuni Hotel Alexis, Kecantikan Puluhan Wanita Ini Bikin Pria Ngiler )

Sayang tak satupun tiga nama dari Kalbar yang disetujui oleh Jokowi sebagai pahlawan nasional, padahal Sultan Hamid II adalah orang yang merumuskan lambang Negara.

Kasi Kepahlawanan Keperintisan Dan Kesetiakawanan Sosial, Dinas Sosial Kalbar, Tukiman menuturkan dari pihaknya hanya sebagai fasilitator dalam pengusulan nama tokoh untuk dinobatkan sebagai pahlawan.

"Kita Kalbar mengajukan tiga orang tokoh Pertama Oevang Oeray, kedua Pangeran Nata Kusuma dan ketiga adalah Sultan Hamid II, pengusulan ini memang melalui masyarakat kita hanya memfasilitasi," ucapnya Jumat (10/11/2017).

Ketiga tokoh itu diusulkan melalui Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) kemudian diproses mengenai perlengkapan persyaratannya.

Setelah itu ia sebutkan pihaknya tidak bisa memberikan intervensi apa-apa dan hanya menerima ketentuan dari presiden.

Ia menjelaskan pengajuan Sultan Hamid II tidak hanya sekali, bahkan sudah dua kali diajukan namun belum diterima oleh kepala Negara yaitu presiden.

"Kami hanya memfasilitasi saja, tapi yang menentukan apakah dia dinyatakan pahlawan itu kebijakan presiden. Sebelumnya masuk di presiden, data-data itu masuk di tim pengkaji gelar dipusat dan mereka turun langsung di lokasi untuk memverifikasi," ucapnya.

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved