Jalan Imam Bonjol Ditutup, Pengusaha Akui Arus Barang Menurun Signifikan

Tak hanya terjadi penumpukan barang. Ia mengatakan dampak dari penumpukan barang membuat produktivitas perusahaan menurun.

Jalan Imam Bonjol Ditutup, Pengusaha Akui Arus Barang Menurun Signifikan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI
Kontainer terparkir di pinggir jalan, akibat Jalan Imbon ditutup frekuensi arus barang menurun signifikan. 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dibatasinya jam operasional truk kontainer melewati Jalan Ayani membawa kerugian bagi pengusaha ekspedisi maupun Importir di Kota Pontianak.

Beberapa pengusaha mengaku dampak dari pembangunan jembatan Bansir, Imbon yang menyebabkan sejumlah kontainer dialihkan ke Jalan Ahmad Yani membuat arus barang menurun signifikan.

Tak hanya terjadi penumpukan barang. Ia mengatakan dampak dari penumpukan barang membuat produktivitas perusahaan menurun.

(Baca: 15 Foto Fenomenal yang Nyaris Tak Diketahui! Kenalin, Ini Dia Wanita Pertama Jadi Pengemudi )

Untuk arus barang perharinya frekuensi diakui Perwakilan Indonesia Logistik Community, Bakoh untuk dalam kota dengan kondisi normal ia mengaku frekuensi bisa 2 hingga 3 rit per hari tergantung tujuan dan barangnya.

(Baca: Waspada! Setiap Hari 5 Kilogram Narkoba Masuk ke Kabupaten Sambas, Infonya Valid Lho )

"Ditutupnya Jembatan Bansir, Imbon memang menjadi kendala saat ini. Mungkin Pelindo terkendala in out cont full dan empty yang tidak seimbang sehingga CY tidak bisa maksimal, Truking yang seharusnya bisa beberapa rit dalam sehari sekarang cuma 1 kali itupun harus extra kerja malam atau dini hari," ujar Bakoh salah satu pengusaha logistik di Kota Pontianak.

(Baca: Ironis! Semua Siswa Terpaksa Belajar Menumpuk Dalam Satu Kelas, Lihat Videonya )

Bakoh mengatakan tak hanya exportir, importir, hingga pelaku usaha dengan pengiriman barang domestik juga terkendala.

"Pengiriman cargonya sangat terkendala karena tidak bisa maksimal kerjanya, pemilik barang atau toko barangnya tidak bisa lancar, pelayaran tidak bisa maksimal muatan kapal atau waktunya bisa berubah schedulenya," ujar Bakoh.

Ia berharap pihak terkait bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

Mengenai apa yang harus dilakukan ia menilai pemerintah mempunyai langkah agar tidak merugikan banyak pihak.

"Jadi akibat dari pembatasan jam operasional truking tersebut, dampaknya sangat besar dan saling terkait. Harapan kita perbaikan jembatan sesuai jadwal yaitu 51 hari atau saat ini ada diberikan waktu tambahan untuk jam operasional truking," ujarnya.

Penulis: Maskartini
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved