Indeks Literasi di Kalbar Masih Rendah, Ini Angkanya

Untuk Provinsi Kalbar sendiri, indeks literasi sebesar 30,55 persen dan indeks inklusi keuangannya sebesar 65,45 persen

Indeks Literasi di Kalbar Masih Rendah, Ini Angkanya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI
Plt Kepala OJK Provinsi Kalbar, Moch Riezky F Purnomo 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pelaksana tugas (Plt) Kepala OJK Kalbar Moch Riezky F Purnomo mengatakan perluasan akses keuangan dan pendalaman sektor keuangan serta stabilitas sistem keuangan domestik perlu dilakukan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Inklusi Keuangan dan Investasi Festival (Investival) 2017 yang bertema “Akselerasi Inklusi Keuangan Melalui Digital Financial Inclusion (DFI)” yang merupakan upaya memperkenalkan produk industri keuangan ia akui menjadi pendalaman sektor keuangan serta stabilitas sistem keuangan.

"Bagi industri keuangan penyelenggaraan Inklusi Keuangan dan Investasi Festival (Investival) 2017 merupakan upaya dalam mendekatkan diri dengan masyarakat sehingga terjadi perluasan akses keuangan dan pendalaman sektor keuangan," ujar Riezky pada Kamis (26/10/2017).

Riezky mengatakan target keuangan inklusif sendiri persentase jumlah penduduk dewasa yang memiliki akses layanan keuangan pada lembaga keuangan formal sebesar 75 persen. "Pada akhir tahun 2019 sesuai target yang tercantum dalam RPJMN 2015-2019 dan Perpres No. 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) sebesar 75 persen," ujarnya.

Adapun tingkat literasi keuangan masyarakat di Indonesia kata Riezky berdasarkan survei yang dilakukan OJK tahun 2016 masih tergolong relatif rendah yaitu 29,66 persen.

(Baca: Tekan Kriminnal, Wakil Ketua DPRD Kalbar Ajak Masyarakat Aktifkan Siskamling )

"Tingkat inklusi keuangan sendiri sudah sebesar 67,82 persen. Untuk Provinsi Kalbar sendiri, indeks literasi sebesar 30,55 persen dan indeks inklusi keuangannya sebesar 65,45 persen," ujarnya.

Ia mengatakan dengan indeks literasi yang masih tergolong rendah, diperlukan upaya yang keras untuk mencapai target 75 persen di akhir tahun 2019. Inklusi Keuangan Investival 2017 dengan tema Digital Financial Inclusion (DFI) ia akui sebagai upaya yang sangat mendukung program kerja Pemerintah Pusat dalam mencapai target RPJMN 2015-2019.

"Target tersebut juga menjadi target Pemerintah Kota Pontianak dalam menjadikan Pontianak sebagai pelopor kota fintech atau financial technology yang merupakan bagian dari Pontianak
sebagai Smart City. Kami mendorong Industri khususnya perbankan untuk gencar mensosialisasikan penggunaan elektronik money," ujarnya.

Meski diakui Riezky peran perbankan saat ini sudah cukup maksimal dalam mensosialisasikan produknya termasuk produk non tunai. "Kita mengharapkan Industri Jasa Keuangan dapat memberikan insentif khusus dari setiap penjualan produk keuangannya, khususnya terkait penggunaan elektronik money," ujarnya.

Penulis: Maskartini
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved