Masyarakat Adat Desa Melobok Pasang Sangga Parang di Kebun Gunung Meliau PTPN XIII

“Kesimpulan kami, pihak perusahaan yang hilangkan spanduk, karena ada kekhwatiran dari pihak perusahaan bahwa spanduk itu dilihat dari pihak Bank..."

Masyarakat Adat Desa Melobok Pasang Sangga Parang di Kebun Gunung Meliau PTPN XIII
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Pemagaran dengan pemasangan adat Sangga Parang dua abdeling kebun gunung meliau, PTPN XIII, belum lama ini. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Hendri Chornelius

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Tokoh Masyarakat, desa Melobok, kecamatan Meliau, Yulius Jahin menyampaikan, bahwa masyarakat adat desa Melobok melakukan pemagaran dengan pemasangan adat 'Sangga Parang' di dua abdeling kebun gunung meliau, PTPN XIII, beberapa waktu lalu.

“Persisnya di abdeling dua dan abdeling enam. Artinya kegiatan panen distop di dua kebun ini, kalau perawatan dan lainya tetap berjalan seperti biasaya, hanya panen saja yang distop karena adanya pemasangan adat Sanga Parang yang menggunakan tempayan, ” katanya, Minggu (8/10/2017).

Ketua Badan Pengawasan KUD Mekar Sari, desa Melobok, yang bernaung di PTPN XIII itu menjelaskan, dilakukanya
pemasangat adat tersebut karena spanduk yang berisi tentang aspirasi masyarakat adat desa Melobok kepada PTPN XIII tentang perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU) yang berakhir pada Desember 2020 dan akan di perpanjang kembali, namun spanduk yang dipasang itu hilang pada 5 Juli 2017 lalu.

(Baca: Rawan Banjir Saat Musim Hujan, Warga Harapkan Ini ke Pemkab Kubu Raya )

Ia menegaskan, selain berisi aspirasi masyarakat juga tertera sanksi adat dan denda apabila ada pihak yang merusak atau menghilangkan spanduk, maka dikenakan sanksi adat dan denda Rp 50 juta, Karena skopnya satu desa, maka dendanya mencapai Rp 50 juta.

“Karena HGU saat ini dengan sistem Inti Murni (seutuhnya untuk perusahaan), kita berharap agar pada saat diperpanjang HGU nanti, menggunakan pola Inti Plasma, jadi tidak seutuhnya untuk perusahaan, melaikan ada bagian untuk petani, ” ujarnya.

Koordinator Kaderisasi Dan Pemuda, DAD Kecamatan Meliau itu menduga, hilangnya spanduk yang dipasang masyarakat adat pada Mei 2017 itu dihilangkan pihak perusahaan, karena ada kunjungan dari Direksi PTPN XIII dan pihak Bank ke kebun Sei Dekan, desa Kuala Buayan, pada 6 Juli 2017, padahal dengan pemasangan spanduk itu aktifitas di perusahaan tetap berjalan seperti biasanya.

(Baca: Tak Ingin Hanya Jadi Tameng Perusahaan, Wabup Sintang Minta Koperasi Diberdayakan )

“Kesimpulan kami, pihak perusahaan yang hilangkan spanduk, karena ada kekhwatiran dari pihak perusahaan bahwa spanduk itu dilihat dari pihak Bank yang survei, jadi kan dengan ada spanduk bearti ada masalah, ” tegasnya.

Halaman
123
Penulis: Hendri Chornelius
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved