Breaking News:

Bunyi Palu Hakim yang Tak Enak Didengar

Hakim tunggal praperadilan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan `menganulir' penetapan tersangka megakorupsi KTP elektronik.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
SIDANG - Hakim Tunggal Cepi Iskandar memimpin sidang praperadilan yang diajukan Ketua DPR Setya Novanto di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (12/9/2017). 

Dan, harus diakui, untuk urusan belitan kasus (hukum), Setnov terbilang jemawa. Masih ingat kasus Bank Bali? Setnov adalah satu dari sejumlah tersangka yang tersangkut megaskandal korupsi dengan kerugian negara mencapai Rp 904 miliar tahun 1999.

Sejumlah tersangka masuk bui, tapi tidak demikian dengan Setnov yang entah kenapa Kejaksaan Agung tanpa alasan yang jelas menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada 18 Juni 2003.

Demikian pula kasus `papa minta saham' yang menyeret-nyeret nama Setnov, mentah di sidang etik Mahkamah Kehormatan DPR.

Terlepas dari kepiawaian Setnov `mencandai' hukum, publik melihat ada ketidakberesan dari para pemegang palu keadilan di negeri ini.

Sebab, kasus Setnov bukanlah yang kali pertama, tapi sudah merupakan kali keenam.

Sangat mungkin, untuk ke depan bakal banyak lagi daftar para tersangka koruptor yang menepuk dada karena permisifnya hakim praperadilan.

Yang paling dekat, yang sangat mungkin adalah Bupati Kutai Kertanegara, Rita Widyasari yang di penghujung September oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka (korupsi).

Kenapa sangat mungkin? Karena memang kasusnya bukan dari sebuah operasi tangkap tangan (OTT), tapi melalui proses penyelidikan dan penyidikan yang cukup lama.

Nah, biasanya, untuk proses kasus demikian ada celah bagi mereka yang disangkakan untuk `melawan' KPK di meja praperadilan.

Tengok saja kasus Komjen Budi Gunawan (mantan petinggi Polri), Hadi Purnomo (mantan Ketua BPK), Ilham Arief Sirajuddin (mantan wali kota Makassar), Raijua Marthen Dira Tome (Bupati Sabu) dan Taufiqurrahman (Bupati Nganjuk), mentah ketika di meja hakim praperadilan.

Halaman
123
Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved