Breaking News:

Citizen Reporter

Perselingkuhan Jadi Pemicu Banyaknya Kasus Perceraian di Sambas

Program KB harus bisa memutus mata rantai panjangnya kasus perceraian di  Sambas.

Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Jamadin
ISTIMEWA
Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili Lc saat menghadiri pencanangan Kampung KB ketiga di tahun 2017, di Desa Serumpun Kecamatam Salatiga pada Selasa (26/9/2017). Bupati menegaskan Program KB harus bisa memutus mata rantai panjangnya kasus perceraian di Sambas. 

Citizen Reporter
Staf Humas, PDE dan Sandi Setda Sambas, Zulpian

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Tingginya angka perceraian Sambas harus disiasati dengan beragam metode atau cara.

Program Keluarga Berencana dengan jargonnya 'Dua Anak Cukup' sekilas tidak memiliki relevansi atau keterkaitan yang erat dengan angka perceraian. 

Namun, bagi Bupati Atbah Romin Suhaili Lc, KB dan memutus angka perceraian di Sambas memiliki keterkaitan yang kuat. 

Penegasan itu disampaikan Atbah saat mencanangkan Kampung KB ketiga di tahun 2017, tepatnya di Desa Serumpun Kecamatam Salatiga, Selasa (26/9/2017).

(Baca: Ratusan Pekerja Outsourching Demo Kantor PLN Kalbar, Ini Tuntutannya )

Program KB harus bisa memutus mata rantai panjangnya kasus perceraian di  Sambas.

"Program KB sebagaimana kita ketahui bersama, KB merupakan kependekan dari kepanjangan Keluarga Berencana. Dalam Mars KB disebutkan dengan KB terciptanya kondisi keluarga yang bahagia. Inilah yang harus kita sepakati bersama, dengan menggalakkan Program Keluarga yang Berencana, melahirkan kebahagiaan didalam keluarga, artinya komunikasi membaik. Tidak ada perselisihan, tidak ada perceraian," jelasnya.

Menurut Atbah, Program Keluarga Berencana harus disukseskan, bukan hanya fokus pada dua anak cukup. Tetapi bagaimana sebuah keluarga memiliki komitmen dan kesepakatan dalam membina rumah tangga yang berkualitas. 

"Dengan Program Keluarga Berencana, kita semua harus memiliki perencanaan yang baik untuk pendidikan anggota keluarga kita, ekonominya, hingga kesehatannya. Inilah seyogyanya perencanaan yang baik dalam keluarga, sehingga terciptalah harmonisasi dalam keluarga," terang Atbah.

Atbah mengungkapkan, kasus perceraian di Kabupaten Sambas cukup mengkhawatirkan. Menurutnya, fenomena itu banyak disebabkan karena kasus selingkuh atau suami nikah lagi. 

"Bercerai itu memang dibolehkan, tetapi Allah SWT membencinya. Jadi bagaimana komitmen kampung KB ini mampu menekan angka perceraian di Sambas. Bantu Pemkab Sambas menciptakan keluarga-keluarga yang berkualitas, keluarga yang harmonis dengan program keluarga berencana ini, rencanakan dengan baik,"sambungnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved