Bank Indonesia Klaim Kredit Bermasalah di Kalbar Rendah

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Dwi Suslamanto, mengungkapkan non performing loan (NPL) atau kreDIT.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/NINA SORAYA
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar menyampaikan pemaparan terkait kinerja kredit di Kalbar dalam acara Diseminasi Informasi dan Pengawasan Perkreditan Nasional, Senin (25/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Nina Soraya

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Dwi Suslamanto, mengungkapkan non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah di Kalimantan Barat (Kalbar) terbilang rendah yakni hanya 2,6 persen.

“Angka ini terbilang bagus karena di nasional saja di atas kita yaitu tiga persen. Sementara batas toleransi kan lima persen,” kata Dwi Suslamanto saat membuka Diseminasi Informasi dan Pengawasan Perkreditan Nasional Dalam Rangka Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Senin (25/9/2017).

(Baca: Suasana HKTI Kalbar Gelar Seminar Pertanian di Sambas )

Dia memaparkan penyaluran kredit di Kalbar tumbuh sehat sebesar 8,31 persen secara year on year (yoy).

Sementara posisi baki debetnya Rp 65,86 triliun. Jika melihat nasional, pertumbuhan juga di bawah Kalbar yang hanya tumbuh tujuh persenan.

(Baca: Balon ini Ditusuk Pakai Paku dan Api Tidak Meletus, Kok Bisa? )

“Hanya saja masih ada beberapa sektor dari penyaluran kredit tersebut NPL masih tinggi. NPL industri pengolahan itu di atas batas psikologis yakni mencapai 14 persen. Berikutnya sektor pengangkutan yang NPL-nya sudah 6 persen. Sementara batas toleransi kan hanya 5 persen,” jelasnya.

(Baca: Bank Indonesia Turunkan Bunga Kredit, IHSG Diprediksi Naik )

Menurutnya saat ini perbankan di Kalbar baru bisa menyalurkan 66 persen atau baru Rp 43,47 triliun dari total penyaluran kredit di Kalbar.

Nah, Bank di Kalbar ini juga menyalurkan kredit di luar sebesar Rp 1,46 triliun.

(Baca: Kepala Suami-Istri Dipenggal di Ketapang! Sang Anak Kirim Pesan ke Presiden Jokowi )

“Meski secara rata rata NPL kita masih rendah tapi ingat masih ada beberapa sektor yang sangat tinggi kredit bermasalahnya. Jadi saya berharap bapak ibu dari perbankan tetap hati hati melemparkan kredit ini. Nah, untuk yang pinjam juga hati hati dilihat dulu mau ekspansi pasar sudah tepat belum,” tambahnya.

Penulis: Nina Soraya
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved