Citizen Reporter

G4NKRI Kalbar Gelar Rembuk Anak Negeri

Tujuan alumni Gontor mengadakan pertemuan, untuk memperkuat rasa solidaritas antar sesama alumni.

G4NKRI Kalbar Gelar Rembuk Anak Negeri
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Gerakan NKRI (G4NKRI) yang beranggotakan alumni Gontor asal Kalbar, menggelar "Rembuk Anak Negeri" di Jalan Tanjung Raya 2 Pontianak, Minggu (03/09/2017). 

Citizen Reporter
Syf Ema Rahmaniah
Koordinator Wilayah G4NKRI Kalbar

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sejumlah alumni Gontor asal Kalbar, yang tergabung dalam Gerakan NKRI (G4NKRI) menggelar pertemuan bertajuk "Rembuk Anak Negeri" di Jalan Tanjung Raya 2 Pontianak, Minggu (03/09/2017).

Tujuan alumni Gontor mengadakan pertemuan, untuk memperkuat rasa solidaritas antar sesama alumni.

Hal ini juga sekaligus membahas berbagai persoalan ke-Bhinneka-an dan persatuan, di tengah hiruk pikuk Pilkada maupun Pilpres, yang seringkali menguras energi ketika muncul benturan-benturan yang menyeret berbagai isu terutama terkait agama, etnis, dan golongan.

Awalnya G4NKRI ini muncul dari pertemuan di Sawangan, 12 Agustus 2017. Sekira 30 orang yang hadir pada waktu itu, merupakan inisiator berdirinya G4NKRI.

(Baca: Tertarik Organisasi? Mari Bergabung di HMI Komisariat ISIP Cabang Pontianak )

Pada pertemuan perdana tersebut, G4NKRI sepakat membentuk kepengurusan organisasi secara resmi. Ditetapkan Marbawi, Andy Syah Alam, Imron Rosyadi, Junaidi Simun dan Fachmi Koto sebagai nakhoda G4NKRI.

Pada pertemuan itu banyak dibahas kondisi terkini bangsa, seperti masalah politik yang kental dengan isu SARA, hingga banyak merubah pola pikir dan perilaku kebanyakan masyarakat Indonesia.

Dibahas pula tokoh-tokoh politik dan agama yang menjadi panutan, malah gagal menjadikan diri mereka sebagai teladan bagi masyarakat.

Untuk mengawal berbagai isu kekinian yang dihadapi bangsa, G4NKRI merasa perlu untuk mengikat diri dalam satu wadah resmi. Diharapkan nantinya G4NKRI bukan saja diisi oleh para alumni Gontor, melainkan semua lapisan anak bangsa yang memiliki tujuan yang sama tanpa memandang perbedaan, ras, suku, golongan, bahkan agama.

"Kita sendiri sebagai G4NKRI-an, tetap 'sentral-moderat'. Agar kebersatuan itu mudah dilakukan, karena elemen-elemen percaya pada kita termasuk konsep berdaulat. Menurut Bung Karno, itu konsep politik (saja)," kata Marbawi, Ketua Umum G4NKRI Nasional.

Menurut dia hal ini harus diterjemahkan sebagai media survival dan powerfulness ekonomi, artinya independensi finansial. Dia mengutip buku "The Venture of Islam" karya Ibnu Khaldun. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa kata "makmur" berasal dari bahasa Arab yakni ma'mur, umran. Maknanya adalah keberadaban, peradaban, madani, civilian, humanis dan sebagainya dengan kemajukan Iptek dan Imtaq. Jadi tahap tertinggi dari Indonesia Raya itu adalah makmur (Peradaban Agung) atau "Peradaban Tinggi". "Makanya kita menyebut pengurus masjid sebagai DKM (Dewan Kemakmuran Masjid). Kemakmuran di situ bukan (hanya) kekayaan material-fisikal, tapi juga kekayaan mental-spiritual. Kekayaan mental-spiritual juga yang berasal dari arti kata makmur selama ini sudah dirusak oleh rezim Orba," kata Marbawi. Dia menyarankan pentinya memperbanyak elaborasi, agar artikulasi kebangsaan dan kemakmuran dapat menjadi artikulasi yang kontekstual.

Selanjutnya G4NKRI Kalbar juga akan mengadakan dua agenda besar, yakni Saprahan Nusantara pada Oktober dan Kemah Anak Negeri 3 pada Desember. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagai gebrakan pertama wadah ini, dalam melancarkan program untuk menebar kebaikan.

Penulis: Dian Lestari
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved