Idul Adha

Idul Adha dan Misi Pembebasan

Agar yang tersisa pada diri kita benar-benar tinggal sifat manusia yang telah dimuliakan oleh Allah, dan benar-benar kita menjadi makhluk yang mulia.

Idul Adha dan  Misi Pembebasan
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Semakin mendekati hari raya Idul Adha, pedagang hewan kurban dadakan mulai bermunculan di sejumlah tempat, seperti di Jalan Veteran, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (29/8/2017) sore. Pedagang setempat mengakui belum adanya dinas terkait yang memeriksa kesehatan hewan kurban yang merupakan hasil ternak sendiri dan yang didatangkan dari Pulau Madura ini. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Umat Islam Jumat besok, 1 September 2017 akan merayakan Idul Adha 1438 H. Idul adha adalah salah di antara 2 hari raya besar bagi umat muslim. Idul Adha memiliki makna yang penting dalam kehidupan. Makna ini perlu kita renungkan dalam-dalam dan selalu kita kaji ulang agar kita lulus dari berbagai cobaan Allah.

Hari raya ini ditandai dengan salat Idul Adha dan berkurban atau menyembelih hewan kurban, sementara sebagian saudara-saudara kita kaum muslim dari berbagai belahan dunia menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Menunaikan shalat Idul Adha, berkurban, dan berhaji ketiganya merupakan amaliah ibadah kepada Allah.

Baca: Miliki Makna Khusus, Ini yang Dilakukan Ketua Umum HIPMI Kalbar di Hari Raya Idul Adha

Berkurban berasal dari syariat Nabi Ibrahim AS yang berpuncak dari kerelaannya hendak menyembelih Ismail, sang anak, semata-mata untuk memenuhi perintah Allah SWT.

Tuhan hendak menguji apakah cinta dan kasih sayang Ibrahim terhadap anaknya itu melebihi cinta dan imannya kepada Allah yang disembahnya. Perintah menyembelih sang anak diterimanya sejak tiga malam berturut-turut, yaitu tanggal 8, 9, dan 10 Zulhijjah.

Nabi Ibrahim, awalnya gemetar, seakan-akan dunia hendak roboh. Batinnya teramat goncang menerima wahyu tersebut. Kecintaannya kepada Ismail merupakan ujian bagi Ibrahim, kecintaan itulah satu-satunya kelemahan Ibrahim dalam perjuangannya melawan Iblis. Namun ia dengan keteguhan hati tetap melaksanakan perintah Allah tersebut. Lalu, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba.

Ismail yang hendak dikurbankan oleh Ibrahim di Mina beberapa abad silam, sebenarnya sebuah simbolisasi. Kurban kambing atau sapi hanyalah simbol.

Bagaimana kita membersihkan sifat hewan dari diri kita. Mengurbankan sesuatu yang kita cintai selama ini, sifat ego diri, kesombongan, kemalasan, kebencian, kedengkian, kemarahan, pikiran negatif, pertengkaran dan segala sifat hewan-hewan yang lain yang ada dalam diri kita.

Jika 'ismail'-nya Ibrahim adalah anak sendiri, maka apa yang dikiaskan sebagai 'ismail-ismail' manusia saat ini bisa berwujud jabatan, kedudukan, harta, harga diri, atau profesi, termasuk di dalamnya mental korup dan serakah yang menguasai manusia, dan tiap sesuatu yang dapat membutakan mata dan menulikan telinga mereka dari hidayah Allah swt.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved