Patahkan Persepsi Negatif Sawit, Ini Kata Gapki Kalbar

Seiring dengan isu yang berkembang di masyarakat GAPKI Kalbar menepis lahan sawit memberikan dampak negatif.

TRIBUN PONTIANAK /MASKARTINI
Sekretaris Executive Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Kalimantan Barat (Kalbar), Idwar Hanis (tengah batik) bersama anggota GAPKI Kalbar bersilaturahmi ke Kantor Tribun 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sekretaris Executive Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Kalimantan Barat (Kalbar), Idwar Hanis mengatakan perkebunan kelapa sawit memberi dampak strategis bagi perekonomian Kalbar.

Ia menyebut di Kalbar hanya 10 persen dari keseluruhan area yang ditanami sawit.

"Banyak yang tidak suka dengan sawit padahal perannya sangat strategis. Berapa banyak desa di Kalbar yang terbuka dari yang sebelumnya terisolasi. Jika kita melihat dari tren pertumbuhan sawit luar biasa. Dari yang hanya ratusan hektar sekarang pertumbuhannya luar biasa," ujar Idwar pada Jumat (25/8/2017).

Seiring dengan isu yang berkembang di masyarakat GAPKI Kalbar menepis lahan sawit memberikan dampak negatif.

"Jika kita lihat areal Kalbar sekitar 14 juta artinya baru sekitar 10 persen. Kalau dari lahan yang dibudidayakan Kalbar ini sekitar 6 juta lahan budidaya. Jadi baru sekitar 20 persen lahan di Kalbar yang digarap, " ujarnya.

(Baca: Pentingnya Peran Media, Gapki Kalbar Kunjungi Tribun Pontianak )

Perlu diklarifikasi kata Idwar bahwa sawit hanya bergerak di lahan yang dibudidayakan.

Artinya ada atau tidak adanya sawit lahan ini kata dia tetap dibididayakan misalnya untuk padi, jagung dan lainnya.

Bahkan keberadaan sawit tak mempengaruhi orang hutan karena 80 persen hutan, tetap hutan baik produksi, industri maupun lindung.

"Jangan sampai salah persepsi. Makanya untuk periode GAPKI hingga periode 2020 lebih banyak membangun eksistensi dan mengingatkan peran kita di kabupaten. Pemda akan mengkonsolidasikan izin yang ada. Dalam waktu dekat kita akan ke Sambas dalam kaitannya mengembangkan sawit yang berkelanjutannya," ujarnya.

Pihaknya juga terus meningkatkan managerial skill anggota untuk menangkal isu yang berkembang dan terkesan merugikan berbagai pihak.

"Semua kabupaten sudah kita sounding tinggal menunggu waktu. Kita ingin semua mengawal, 10 tahun terakhir perkembangan luar biasa. Bukan karena pelakunya banyak tetapi karena iklim yang diciptakan cukup nyaman," ujarnya.

Penulis: Maskartini
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved