Millennial

Galih Awalnya Tak Berniat Jadi Solois   

Tapi atas dukungan Tezar Haldy, ia kemudian memulai project solonya ini dengan mengisi sountrack sebuah film...

Galih Awalnya Tak Berniat Jadi Solois    
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / Nasaruddin
Galih Wahyudi tampil bersama gitaris New Starter Destri Wandha, di kantor Tribun Pontianak, Rabu (23/8/2017) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Galih pada awalnya tak berniat untuk memulai project solo.

Tapi atas dukungan Tezar Haldy, ia kemudian memulai project solonya ini dengan mengisi sountrack sebuah film.

 “Tiba-tiba suatu waktu seorang teman, haldy ini ngechat istri saya, isinya buat saya mikir katanya mau tidak galih untuk solo. Dia mau ajak dan bantu saya solo. Saya mikir, berani atau tidak. Saya tidak pernah tampil tanpa band, sebenarnya yang buat saya pede di atas panggung ya band. Ini yang saya takutkan, beda dengan ngemc. Kita harus punya beberapa kepribadian,” jelasnya.

 Atas kemauannya ingin berkarya, ia pun terima.

(Baca: Inilah Judul Lagu Pertama Galih Mulai Solo Karir )

Ia punya lagu, dan kemudian ia tanyakan pada Haldy apakah mau dengan tipe lagu kayak gini.

Galih pun mengaku banyak hal yang ia persiapkan untuk memulai project solo.

“Pertama saya siapkan mental karena tidak pd, lalu siapkan beberapa equipment untuk nunjang live kayak mic dan lain-lain. Lalu juga memilih genre, apakah akan sama dengan versi band dulu atau beda,” katanya.

Untuk urusan genre, Haldy menyerahkan semun ya pada Galih mau genre kemana dan seperti apa.

Akhirnya diputuskanlah atas kesepakatan dan materi yang ada, yaitu ke pop minimalis.

 “Saya sebutnya pop minimalis dan tak mesti yang ribet dan beda jauh dengan genre yang dulu. Walau dalam hati pengen bikin musik keras yang bikin loncat. Tapi kenapa tidak buat musik untuk sarana saya bercerita, sarana saya menyampaikan kisah dan lewat pop minimalis lebih gampang menyampaikan maksud yang saya tuju,” ceritanya.

Suatu karya, menurut Galih bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain.

Mungkin memang adanya idealisme dan keinginan untuk berdiri sendiri tapi selagi karya belum dirilis, karya tersebut masih punya musisi sedangkan jika udah dilepas biarlah orang lain yang menilai.

“Saya butuh perahu untuk berlayar, dan perahu itu adalah genre,” tukasnya.

Penulis: Listya Sekar Siwi
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved