Bunga Rajut Boyan Jadi Primadona

Kini produk lain sulam dan rajut yang cukup diminati adalah rangkaian bunga hias, seperti yang ditawarkan brand Boyan.

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI
Dewi saat menunjukkan produknya pada pameran baru-baru ini di PCC 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Berbagai produk kerajinan seperti sulam hingga rajut kian diminati berbagai kalangan.

Pangsa pasarnya pun semakin luas, jika hasil rajutan dan sulam identik dengan tas hingga taplak meja.

Kini produk lain sulam dan rajut yang cukup diminati adalah rangkaian bunga hias, seperti yang ditawarkan brand Boyan.

Bentuknya yang unik dan lucu selalu mencuri perhatian setiap pameran.

Owner Boyan, Dewi mengaku sejak ketertarikannya menyulam dan merajut untuk memotivasi diri menjadi UMKM yang lebih profesional, ia mengikuti kelas Inkubator Bisnis BI.

"Saya pada dasarnya senang dengan kerajinan, jadi dari dulu saya senang mencoba berbagai jenis ketrampilan, dari menjahit, manik, wol, flanel dan juga rajutan," ujar Dewi pada Selasa (15/8/2017).

(Baca Juga: Tim Gabungan Gelar Razia dengan Sasaran Wajib Pajak

Sedari kecil diakui Dewi ia sudah sering membuat aksesoris seperti gelang, anting dan gantungan kunci untuk dipakai sendiri. Ia pun mempelajari keterampilan ini dari berbagai sumber, baik dari buku, teman, internet, dan juga senang mengikuti kursus. Namun khusus rajutan, ia pertama kalinya belajar waktu masih di SMP.

"Dulu mata pelajaran keterampilan banyak, salah satu yang diajarkan adalah merajut. Hanya saja dulu saya belum terlalu mendalaminya seperti sekarang.

Setelah anak agak besar saya mulai kembali tertarik untuk membuat berbagai macam kerajinan dan mendalami rajut. Saya mulai mencari-cari tempat kursus merajut dan akhirnya ketemu guru rajut lewat media facebook," ujar Dewi.

Lantaran memiliki basic merajut, tak butuh waktu lama bagi Dewi untuk belajar.

"Saya kursus selama kurang lebih 3 bulan, untuk mempelajari berbagai macam teknik merajut, motif dan belajar membaca pola. Selesai kursus saya makin memperdalam ilmu, bereksperimen dalam mencoba bentuk yang baru, sehingga rajutan yang dihasilkan makin bervariasi dan berbeda dari yang sudah ada," ujarnya.

Dewi pum merasa karyanya diapresiasi lantaran respon masyarakat Kota Pontianak cukup hangat dan peluang pun terbuka lebar. Rata-rata teman sesama perajut di Kota Pontianak kata Dewi kebanjiran order dan punya daftar tunggu masing-masing. Dari produk yang ditawarkan bros dan bunga meja merupakan produk yang paling diminati.

"Modal awal saya sekitar Rp300 ribu untuk beli benang berbagai warna dan hakpen (jarum). Sekarang produk yang ditawarkan ada bros dengan range harga Rp2500 hingga Rp50 ribu, kotak tisu Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, gantungan kunci Rp25 ribu hingga Rp50 ribu dan bunga meja Rp40 ribu hingga Rp200 ribu, " ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved