Tiada Ampun bagi Pengedar Narkoba

Tercatat, sudah ada sekitar 18 yang sudah dihukum mati di era pemerintahan Jokowi.

Tiada Ampun bagi Pengedar Narkoba
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIDHO PANJI PRADANA
Suasana press release yang dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI, Arman Depari, didampingi Kapolda Kalbar, Irjen Pol Erwin Triwanto, Kakanwil Kemenkumham Kalbar, Rochadi Iman Santoso, Kakanwil Bea Cukai Kalbar, Saipullah Nasution, Kepala BNNP Kalbar, Nasrullah, perwakilan Kejati dan jajaran lainnya. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Tindakan tegas Badan Narkotika Nasional (BNN) menembak mati dua pengedar sabu saat melakukan penangkapan terhadap tujuh tersangka pengedar sabu di Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat pada Minggu (6/8) patut diapresiasi.

Kedua pengedar yang terpaksa dilumpuhkan karena berusaha melawan dan melarikan diri itu seorang warga negara Malaysia, Cheng Kheng Hoe alias Ahoi, dan Alaw alias Ape warga negara Indonesia.

Dalam jumpa pers yang digelar BNN bersama Polda Kalbar di Mapolda Kalbar Senin (78), terkait kasus penyelundupan 17.541 kilogram sabu di perbatasan Indonesia-Malaysia di Jagoi Babang, Bengkayang, Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI, Irjen Arman Depari mengungkapkan, Ahoi merupakan pemasok narkoba dari Malaysia, dan Ape penghubung bandar dan supplier.

Empat orang tersangka lain yang berhasil diciduk BNN adalah WNI berinisial RP (kurir), AV (kurir), MY (pengendali kurir), DZ (gudang), TF (bandar atau pemilik barang). Barang bukti yang disita selain 17 kilogram sabu, juga satu unit Toyota Calya yang dipakai untuk menyelundupkan narkoba, beberapa unit handphone. Dengan kasus ini, maka sampai 7 Agustus 2017, sudah 115 Kg narkoba yang masuk ke Kalbar.

Sebelumnya, BNN menembak mati empat orang bandar dan kurir narkoba. Pada Maret 2017 lalu, BNN menembak mati Liem We Po alias Apoy karena berusaha kabur saat penangkapan di Jl Adisucipto, Kubu Raya terkait penyelundupan narkoba 11 Kg. Tiga lainnya yang ditembak mati, Gusnadi alias Cul, Wahyudi Alias Tedung, Gusdiman alias Godeng.

Selanjutnya pada April 2017, dua penyelundup 15 Kg sabu asal Malaysia ditembak mati. Mereka adalah Ipul, dan Abdurahman alias Herman, pemilik 15,9 Kg sabu yang diamankan di Batang Tarang karena berusaha melarikan diri ke Malaysia. Masih di bulan yang sama, petugas Polda Kalbar menembak mati Daud, penyelundup narkoba yang memasok narkoba ke rutan Kelas IIA Pontianak.

Tindakan tegas BNN maupun Kepolisian berupa tembak di tempat terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba yang berusaha melawan patut didukung. Tindakan tegas, namun terukur tersebut menurut Arman Depari, tidak lain untuk memutus mata rantai penyelundupan dan peredaran narkoba di Tanah Air.

Tiada ampun untuk pengedar dan bandar narkoba. Seperti ditegaskan Presiden Joko Widodo ketika menutup Mukernas II Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jakarta, Jumat (21/7/2017) silam.

"Jangan diberi ampun karena kita dalam posisi darurat dalam urusan narkoba ini. Sekarang Polri dan TNI betul-betul tegas terutama terhadap pengedar narkoba warga negara asing yang masuk ke Indonesia, sedikit melawan langsung ditembak saja," katanya.

Tercatat, sudah ada sekitar 18 yang sudah dihukum mati di era pemerintahan Jokowi. Sikap tegas pemerintah menjatuhkan vonis hukuman mati dan tembak di tempat kepada para pengedar merupakan hal yang sebanding untuk melindungi masyarakat dari bahaya narkoba yang sangat merusak. Masyarakat perlu memahami bahwa penjahat narkoba tidak memiliki tempat di Tanah Air ini.

Sikap pemerintah itu mengutip pernyataan Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin, di Tasikmalaya, sesuai dengan Ijtima' ulama menghasilkan rekomendasi agar aparat tidak memberi ampunan atau keringanan hukuman bagi pengedar narkoba. Mereka yang terlibat dalam peredaran gelap narkoba sama saja dengan melakukan kejahatan.

Jadi Indonesia tidak perlu ragu meniru sikap tegas Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk menembak mati penjahat narkoba di tempat. Karena ternyata efektif memberantas narkoba di negaranya. Baru sebulan berkuasa 400 tersangka pengedar dan pengguna narkoba tewas, sebagian besar karena baku tembak dengan polisi. Sementara lebih dari 4.400 tersangka ditahan.

Jadi, sudah bukan saatnya lagi pemerintahan Jokowi bersikap lunak terhadap para penjahat narkoba. Juga terhadap para oknum aparat penegak hukum yang membekingi mereka. Hukum seberat-beratnya, dan umumkan nama mereka ke publik.(*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved