Bujang Kurir Kini Gandeng Brand Lokal sampai Internasional
Aplikasi ini untuk memudahkan pelanggan untuk memesan menu-menu, pembelian barang atau bahkan tiket bioskop.
Penulis: Nina Soraya | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Nina Soraya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Bertepatan dengan 1 tahun Bujang Kurir berdiri, usaha ini mulai mengembangkan platform aplikasi untuk memudahkan pelanggan menggunakan layanannya.
Owner Bujang Kurir, Rizky Ramadan menuturkan saat itulah Bujang Kurir mulai mengembangkan aplikasi berbasis web yang menandakan awal Bujang Kurir mulai masuk ke ranah startup. Bujang Kurir pun mengajak satu di antara dosen TI di UNTAN, yaitu M. Azhar untuk menggarap aplikasi awal ini.
Aplikasi ini untuk memudahkan pelanggan untuk memesan menu-menu, pembelian barang atau bahkan tiket bioskop.
Seiring dengan berjalannya waktu, kami terus menyempurnakan aplikasi Bujang Kurir. Bekerjasama dengan mahasiswa-mahasiswa TI UNTAN, pada tanggal 7 Januari 2017 aplikasi full version android resmi diluncurkan dengan banyak perubahan.
“Pelanggan sekarang bisa langsung chat dengan kurir yang memproses orderannya, sehingga meminimalisir kesalahan item order yang dipesan oleh pelanggan,” jelasnya.
Baca: Start Up Lokal, Bujang Kurir Mulai Bisnis dari Ide Kelaparan
Sampai dengan bulan Juli 2017, aplikasi full version android sudah diunduh sebanyak 8.500 kali. Sebanyak 28 gerai dan 18 outlet yang bekerjasama. Di antaranya Alila, Pizza Hut, RM Sederhana, Bingke Al Fajar, Raja Uduk, dan lainnya. Saat ini jumlah order yang diselesaikan sampai dengan Juli 2017 sebanyak 35.108 order dengan jumlah kurir dan karyawan sebanyak 25 orang.
“Gerai yang bergabung di aplikasi kami beragam, dari brand lokal sampai internasional, kami bersyukur bisa menjadi penghubung mereka kepada pelanggan yang tak ingin repot keluar rumah karena kesibukan atau halangan lainnya,” paparnya.
Tantangan terbesar saat ini untuk Startup lokal seperti Bujang Kurir adalah bersaing dengan startup nasional yang kini hadir di Kota Pontianak dengan tarif yang sangat murah. Regulasi dari pemerintah sangat diharapkan untuk sebuah persaingan yang sehat.
“Kami berharap adanya batas bawah untuk tarif agar usaha yang kami bangun dengan kreativitas anak-anak muda lokal Kota Pontianak ini tidak mati karena persaingan yang tidak sehat. Kami tak ingin kurir kami kehilangan pekerjaannya, kami juga tak ingin inovasi tim di Bujang Kurir mati hanya karena persaingan yang tidak sehat ini”, ujar Riszky.