Kongres Dayak Internasional
Cornelis: Kongres Dayak untuk Menyamakan Persepsi Membangun SDM
Kita yang menjaga hutan, namun negara maju yang menciptakan gas rumah kaca dan menikmati kemakmuran
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Jamadin
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Presiden MADN, Cornelis yang juga adalah Gubernur Kalbar, dalam sambutannya menuturkan satu diantara tujuan diadakannya Kongres Dayak Internasional adalah menyamakan persepsi serta untuk membangun SDM.
"Seperti yang disampai Menteri Yosana tadi malam, bahwa membangun manusia ini tidak cukup hanya pemerintah, namun ada pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan NGO, sehingga program yang telah disampaikan pemerintah dapat segera terlaksana. Oleh karena itu diadakannya kongres untuk menyamakan persepsi, mengundang rekan negara sahabat, baik dari Malaysia, Madagaskar, India, Taiwan, Thailand, Selandia Baru, Filipina, Itali dan Meksiko karena merupakan bagian strategis dari tahapan proses pembahasan pengambilan tema kongres, sehingga perlu merajut benang-benang peradaban Dayak dalam struktur jaman yang dinamis dan subtema penguatan peranan bangsa dayak menuju epicentrum pembangunan sosial, ekonomi, bisnis, keuangan, dan politik," terangnya, Rabu (26/07/2017).
Dikatakannya, saat beberapa kali ikut pertemuan internasional dengan Presiden SBY membahas perubahan iklim di Copahagen dan pertemuan terakhir di Morakes, ternyata, kata dia, Kalimantan dituntut oleh dunia Internasional, agar bisa menjaga hutan karena adalah paru-paru dunia, dan demikian juga dengan Amazon.
"Kita yang menjaga hutan, namun negara maju yang menciptakan gas rumah kaca dan menikmati kemakmuran, sementara kita miskin dan dicap macam-macam, Maka dari itu mari kita bersama-sama memikirkan hal tersebut dan bertukar pikiran dengan saudara negara lain agar bisa menciptakan manusia yang cerdas, pintar dan tidak menjadi beban negara," kata dia.
Hal tersebut, menurutnya adalah tujuan akhir dari cita-cita kongres, bukan hanya datang, hasil rumusan akan disampaikan pada Presiden RI.
Dari segi ekonomi, kata Cornelis, belum ada perkembangan dan mampu berdagang, membangun jaringan ekonomi dan masih dipegang orang lain, sehingga harga komoditi perkebunan, pertanian dikendalikan oleh kelompok tertentu.
"Begitu juga disektor keuangan, belum mempunyai lembaga keuangan, tidak mempunyai lembaga keuangan yang mampu sekalimantan atau dunia tradisional. Kita memang masih primordial, namun primordial kita untuk percepatan pembangunan, dan pembangunan manusia," ujarnya.
Oleh karena itu, menurut Cornelis diperlukan seluruh komponen bangsa untuk ikut terlibat di dalammnya.
"Begitu juga di bidang politik, bagaimana bisa berpolitik sesuai dengan negara demokrasi lainnya," tuturnya.
Ia pun mengatakan, pada Kongres Dayak Internasional tidak menggunakan dana pemerintah atau negara.
"Jangan berfikir kami menggunakan APBD dan Gubernur Kalbar korupsi Rp. 200 miliar, ini adalah partisipasi dari pengusaha yang sudah menikmati tanah Kalimantan atau dana CSR," pungkasnya.