Kongres Dayak Internasional

Stan DAD Kalteng Tawarkan Anyaman Rotan dan Getah Nyatu

Anyaman rotan dan getah nyatu merupakan program dari UKM, desa dan kecamatan dikumpulkan yang juga dibina oleh Disperindag Provinsi Kalteng

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / RIDHO PANJI PRADANA
Yuwensi yang menjaga dan mewakili stand DAD Kalteng saat memamerkan produk Getah Nyatu. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng ikut memeriahkan pagelaran Kongres Dayak Internasional pertama di Kalbar dengan mengisi satu diantara 66 stan yang disediakan panitia. Di stan itu, dia menawarkan icon kerajinan masyarakat Kalteng yaitu anyaman rotan dan getah nyatu.

Yuwensi yang menjaga dan mewakili stan DAD Kalteng, mengatakan pihaknya memamerkan produk ayaman rotan, dan getah nyatu sebagai produk andalan, namun, kata dia, selain itu ada juga obat-obat, dan teh tradisional yang berguna sebagai obat kanker dan berbagai macam lainnya.

"Anyaman rotan dan getah nyatu merupakan program dari UKM, desa dan kecamatan dikumpulkan yang juga dibina oleh Disperindag Provinsi Kalteng," tuturnya, Senin (24/07/2017).

Walaupun merupakan produk unggulan, diakuinya untuk bahan baku getah nyatu sudah langka, dan hanya bisa ditemukan di Lamandau dan Murung Raya Kalteng.

"Getah Nyatu adalah kerajinan tangan satu-satunya di Kalteng, cara pembuatanya juga direbus terlebih dahulu," ungkapnya.

Ia mengatakan, bahan Kerajinan Getah Nyatu sudah sangat langka karena hutan sudah tidak adalagi.

"Langkanya bahan pokok Getah Nyatu disebabkan penebangan hutan dengan adanya perusaan sawit, namun untuk di Kalbar saya tidak tahu namanya, namun di Kalteng namanya Getah Nyatu," bebernya.

Untuk proses pembuatannya sendiri, Ia mengatakan bahan tersebut terlebih dahulu direbus, lalu setelah itu dibentuk dengan berbagai macam.

"Pengrajinnya hanya ada di Kabupaten Kapuas, sudah berpuluh-puluh tahun dan turun menurun sama dengan anyaman rotan," kata dia.

DAD Kalteng, yang juga menawarkan produk lainnya seperti amplang ikan, wadi sampai dengan ikan asin sudah ikut beberapa kali mengisi stan selain dari Kongres Dayak Internasional. 
"Untuk harga mulai dari Rp. 20 ribu sampai jutaan," ujarnya.

Untuk melestarikan batang Getah Nyatu, diakuinya belum ada, dan menggunakan waktu berbulan-bulan untuk sekarang menemukannya, terlebih kebakaran pada 2015.

"Kalau dulu tiga hari sudah ada bahannya, namun sekarang sangat sulit mencarinya," tuturnya.

Ia pun berharap, dengan Kongres Dayak Internasional ada pemberdayaan masyarakat lokal. "Harapan saya untuk UKM khususnya dapat diperhatikan, dan kemajuan untuk dukungan pemerintah guna kebangkitan ekonomi kemasyratakan dan juga kualitas dari kerajinan, kita lebih diberdayakan  diperdayakan, erta pembinaan dari pemerintah," tukasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved